SUKOHARJO—Pascapanen di musim kemarau ini, perburuan harta karun di persawahan Kelurahan Joho, Kecamatan Sukoharjo kembali marak. Puluhan hektare sawah tersebut diyakini menyimpan harta benda peninggalan umat Budha kuno.
Seperti diketahui, temuan benda-benda kuna di lokasi tersebut pernah diteliti Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Dalam penelitian tersebut, ada temuan fosil Homo sapien dan dinas terkait diminta untuk menindaklanjuti. BPCB juga menyarankan agar lokasi tersebut dilindungi. Hanya saja, di lokasi persawahan itu belum terdapat papan larangan penggalian dari dinas terkait.
Selama ini, tidak sedikit pemburu menemukan harta benda berupa emas, perak, perunggu, mote dan mutiara di sana.  Tidak sulit menemukan pecahan tembikar kuna dan tulang belulang di persawahan tersebut. Menurut warga Joho, Antonius Bimo Wijanarko, persawahan tersebut di duga bekas makam umat Budha kuno.
Berdasarkan informasi yang dia terima, makam umat Budha zaman dahulu disertai harta berupa emas, perak dan perunggu yang ditaruh dalam tembikar. Tembikar berisi harta benda itu ditempatkan di atas kepala dan kaki. Selain itu, pada mulut jasad yang dimakamkan juga diberi intan.
“Karena itu banyak pemburu yang menggali sawah-sawah di sini,” tutur Bimo di persawahan yang mulai digali, Selasa (3/11).
Menurut dia, setiap pascapanen di musim kemarau seperti ini banyak pemburu harta karun yang beraksi. Saat ini, sudah terlihat titik-titik penggalian harta karun terpendam itu. “Bisa kita lihat, sudah banyak penggalian yang terlihat. Tapi, sepertinya tidak sebanyak musim tahun lalu,” katanya.
Seorang pemilik sawah, Harto Mariman (72), mengaku sudah melihat aktivitas penggalian di areal persawahan tersebut belum lama ini. Menurutnya, pemburu harta karun itu ada yang berasal dari luar daerah dan dari lokal Sukoharjo. “Kemarin saya tanya, katanya tidak dapat apa-apa,” ujar Harto dengan bahasa Jawa.
Harto mengatakan, perburuan harta karun di areal sawah tersebut tidak semarak lima sampai delapan tahun yang lalu. Bahkan, satu petak sawah disewa seharga Rp 3 juta untuk setiap penggalian. Dia sendiri pernah menemukan gerabah utuh dengan tekstur halus di kedalaman 30 cm. Gerabah tersebut akhirnya dipecah di sawah tempat dia menemukannya.
“Dulu kalau dapatnya banyak. Ada mote, emas, mutiara dan banyak barang antik. Yang tidak diambil besi dan tulang-tulang,” imbuhnya.
Menurut dia, pada saat itu dalam suatu penggalian menemukan dua peti mati kuno di dua tempat yang berbeda. Namun kedua peti mati menyerupai Lesung (alat tradisonal tempat menumbuk padi) itu belum sempat diangkat. Pemilik lahan melarang para penggali mengangkat peti mati tersebut. Peti mati tersebut ditemukan dengan posisi membujur ke barat.
“Saya lihat sendiri ada yang menemukan peti mati di timur Dukuh Gronong (Kelurahan Mandan, Sukoharjo). Yang satu di utara sungai dan yang satu di selatan sungai. Di dalamnya ada tulangnya dan mungkin ada emasnya juga,” kata warga Gronong RT 1 RW IV, Kelurahan Mandan, Sukoharjo tersebut

Sumber/Wartawan/Penulis : Sofarudin