Dunia desainer adalah dunia kreativitas tanpa batas semua orang diminta menghasilkan ide-ide baru tentang fashion. Hal ini pula yang membuat sosok desainer muda asal Solo, Rory Wardana kembali menghadirkan sebuah karya yang tak kalah bagusnya. Sebuah karya desainer bertema ready to wear yang dengan judul Batik In Harmoni ini bertujuan untuk memadupadankan kain batik dengan semua kain daerah se-Indonesia.
Rory mengungkapkan ide awalnya pembuatan acara bertema batik ini akan dipadupadankan dengan kain kebaya. Namun setelah dibuat judul khusus akhirnya dia pun memutar ide untuk menjelaskan bagaimana menyajikan kain batik khas Solo dengan kain dari daerah lain seperti songket. Dengan modal koleksi kain milik pribadi maka terwujudlah beberapa hasil garapannya.
“Salah satunya saya membuat kain sarung Makassar yang hanya di pakai dengan cara dililit kemudian dijahit sum dan diisolasi saja,” ujar Rory Wardana saat ditemui Joglosemar di butiknya di Solo Grand Mall Solo,
Senin (22/5).
Rory berhasil memadukan dua puluh mode pakaian dari kain daerah beserta kain batik tulis hasil kolaborasinya dengan Batik Candi Luhur di Solo Car Free Day, Minggu (21/5). Kain batik Candi Luhur dia gunakan sebagai bawahan sementara pada bagian atas dia menggunakan beberapa kain Nusantara seperti kain songket Sumatera, kain endek dari Bali. Untuk bagian pemanis dia gunakan syal tenun dari Nusa Tenggara Timur.
Konsep ready to wear ini yaitu bagaimana baju itu bisa dan pantas dipakai untuk keperluan sehari- hari. Konsep acara yang diinginkan yaitu bagaimana fashion itu bisa dekat dan akrab dengan masyarakat misal dengan panggung yang dibuat sedemikian. Rory berkeinginan dunia fashion bukan lagi milik mereka kalangan menengah ke atas namun milik semua
kalangan.
“Saya ingin bisa mem-fashionkan Kota Solo, saya ingin orang tidak lagi menganggap fashion hanya dilihat di mal saja tapi di mana saja,” tuturnya.

Tidak Rumit
Salah satu karya Rory yang cukup bagus yaitu setelan blazer atasan yang dibuat dengan kain sarung dengan bawahan  kain batik tulis. Busana yang dirancang konsep blazer dan beskap hingga menjadi  modern yang bahannya dari kain sarung. Khusus untuk aksen pria digunakan syal  yang terbuat dari kain tenun NTT sehingga kesan yang muncul yaitu cinta Tanah Air.
“Mari kita hargai orang Indonesia yang telah membuat karya ini jangan menghargai karya luar saja, bahan sarung misal dibuat blazer juga keren,” ungkapnya.
Sementara untuk pakaian perempuan Rory memperkenalkan model lilitan, karena memang bahan tidak memungkinkan untuk dipotong karena kain tenun. Model kelelawar, yaitu model dengan potongan kain longgar di bagian kiri dan kanan yang nyambung dengan bahan utama yang simpel bisa dipakai kapanpun.
Selain itu juga ada bolero dan semi bolero panjang digunakan satin silk hal ini bertujuan untuk membuat perempuan itu merasa nyaman dengan pakaian tersebut. Bahan satin silk itu terkesan ringan sehingga tidak ada kesan rumit karena penggunaan kain batik tulis  sebagai bawahannya. Sebagaimana konsep ready to wear yang simpel dan mudah digunakan di kesempatan apapun.
“Kalau untuk perempuan saya ingin kesan yang muncul itu elegan, anggun ,energik  dan cantik,” terangya.

Sumber/Wartawan/Penulis : Kukuh Subekti