Kota Solo memiliki sejumlah dai dengan berbagai inovasi di tangan mereka penyampaian tentang ajaran Islam mudah dipahami dan menyenangkan bagi anak-anak.
Setidaknya, itulah kesan yang tertinggal dari metode dakwah yang dilakukan sosok pendongeng Kak Bony dan Pendekar Yo yang menjadikan sulap sebagai media dakwah.
Pemilik nama Bony Eli Saputro ini telah lama menjadi pengajar Taman Pendidikan Quran (TPQ). Aktivitas dakwah di kalangan anak-anak ini dilakoninya sejak lulus dari bangku SMK.
Tahun 2006, saat menjadi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ia menyadari bahwa guru harus memiliki “senjata” untuk mengambil perhatian anak. “Ternyata anak lebih tertarik disampaikan pelajaran dengan dongeng. Mereka cepat memperhatikan, yang lari-larian dan main sendiri kembali fokus pada pelajaran,” katanya.
Guru TK Al Al Firdaus Surakarta ini semakin mengembangkan teknik mendongengnya. Bahkan sandal, kaus kaki dan serbet dapat menjadi alat peraga saat mendongeng.
Inovasi dakwah juga dilakukan, Sriyono (39) tahun. Pria yang dikenal dengan julukan Pendekar Yo ini menggunakan sulap sebagai media dakwah.
Sama seperti Bony, warga Semanggi RT 4 RW XXI ini menemukan inovasi dari kegelisahannya saat mengajar TPQ. Ia mengungkapkan, tahun 2000 ia telah aktif sebagai pengajar TPQ. Namun ia merasa berbagai cara mengajar yang dilakukan tidak berhasil mengondisikan anak.
Tahun 2003 menjadi sejarah besar bagi Pendekar Yo. Ia menemukan sulap sebagai “senjata” untuk menarik perhatian anak. Ia mengaku belajar secara autodidak, beragam trik sulap dikuasainya dengan menonton kaset peragaan sulap dan membeli alat. Perlahan-lahan, ia memasukan pesan-pesan moral, akhlak dan adab dalam sulapnya.
“Kalau sekadar sulap orang hanya tertawa dan kagum. Maka saya masukan nilai-nilai Islam, seperti pesan untuk menyayangi orangtua, sedekah dan lain-lain sebagai muatan dakwah,” ujarnya.
Namun demikian, perjalanan dakwah tak semulus harapan. Pendekar Yo pernah dituding menggunakan sihir, padahal yang dilakukan hanya trik kecepatan tangan. Namun demikian, hal itu dianggapnya sebagai tantangan dakwah.
“Sampai sekarang masih ada yang tidak suka dengan cara saya, karena dianggap pakai sihir. Tapi biarkanlah mereka belum tahu,” tandasnya

Sumber/Wartawan/Penulis : Arief Setiyanto