Dahulu dongeng masih begitu asing di kalangan pengajar Taman Pendidikan Quran (TPQ). Pembelajaran masih dilakukan secara klasikal dan berorientasi pada aspek pengetahuan santri. Akibatnya, pembelajaran terasa kaku dan membosankan. Di sisi lain fokus anak dalam belajar tampak berkurang, anak lebih tertarik pada permainan
Dibandingkan sulap, dongeng dikenal lebih dulu. Setidaknya dongeng mulai dikenal sebagai media dakwah pada tahun 2000-an. Sedang sulap baru populer tiga tahun terakhir ini. Dua hal ini masih menjadi sesuatu yang istimewa. Pasalnya, kemampuan mendongeng dan sulap untuk dakwah di kalangan anak-anak terutama TPQ masih sangat langka. Di eks-Karesidenan Surakarta misalnya hanya ada sekitar 50 pendongeng handal sedang pesulap masih sangat minim.
Oleh karena itu, pengembangan dongeng dan sulap sebagai sarana dakwah patut diapresiasi. Dua inovasi ini setidaknya turut menghidupkan kembali pembelajaran TPQ. Pembelajaran TPQ yang dinilai menjemukan, setidaknya saat ini terasa lebih menyenangkan.
Jika dilihat, anak-anak dapat memahami dengan mudah pesan-pesan yang tersirat dalam kisah-kisah teladan yang disampaikan. Terlebih, jika kisah teladan itu merupakan petikan dari hadis. Kemampuan mendongeng setidaknya mampu “mencuri” perhatian anak untuk fokus selama paling tidak 30 menit.
Namun demikian, hendaknya para dai tetap mengasah kreativitas sehingga muncul inovasi baru. Sehingga, aktivitas medongeng dan sulap yang dilakukan tidak usang dan terulang. Para pengajar TPQ juga harus mengasah kreativitas dalam mengembangkan kegiatan belajar mengajar. Selain itu yang terpenting memberikan follow up pascakegiatan mendongeng atau sulap, sehingga pesan yang disampaikan tidak dilupakan anak.

Sumber/Wartawan/Penulis : Arief Setiyanto