Sebuah bahtera perkawinan  yang dijalankan oleh sepasang anak manusia tak bisa lepas dari sebuah pertengkaran. Pertengkaran yang terjadi terkadang bisa membuat hubungan keduanya menjadi semakin dekat dan harmonis namun tak jarang pertengkaran suami istri berujung pada perpisahan.
Beberapa kasus pertengkaran suami istri ada yang berujung pada perpisahan seperti yang dialami oleh Mirna (35) warga Karanganyar. Mirna mengaku sejak awal pernikahannya dengan sang suami tidak ada masalah serius bahkan cenderung adem ayem. Dia bahkan merasa keluarganya termasuk keluarga bahagia yang harmonis sebab dia dan sang suami jarang terlibat cekcok selama hampir belasan tahun menikah.
“Saya waktu itu berpikir kalau saya  adalah perempuan paling bahagia dan beruntung dengan kehidupan rumah tangga saya,” ujar Mirna kepada Joglosemar.
Mirna tidak pernah menduga jika ternyata rumah tangga yang dia banggakan menyimpan bara api yang siap membakarnya sewaktu- waktu. Suami yang dia cintai dan dia banggakan ternyata mengkhianati mahligai perkawinan  mereka berdua. Dia merasa histeris mengetahui pengkhianatan sang suami, hingga dia memilih mengurung diri di kamar selama dua pekan lamanya.
“Waktu itu saya lemas nggak habis pikir, cuman bisa nangis dan mengurung diri di kamar bahkan anak saya sampai opname di rumah sakit melihat ayah dan ibunya bertengkar hebat,” tuturnya.
Pihak keluarga pun turun tangan membantu dengan jalan musyawarah. Dalam pertemuan keluarga itu diketahui jika selama ini orang-orang yang menjadi selingkuhan sang suami adalah orang-orang terdekat Mirna dan itu sudah berlangsung lama.
Kurang lebih ada lima perempuan yang pernah menjadi teman selingkuhan sang suami selama kurun waktu dua belas tahun pernikahan.
“Betapa marahnya saya ternyata perempuan-perempuan tersebut  semuanya saya kenal  ada yang tetangga rumah, dan juga karyawan saya sendiri,” ungkapnya.
Semenjak itu, Mirna memutuskan pisah ranjang dengan sang suami meskipun tidak dalam posisi bercerai. Namun, keduanya tetap sepakat menjalankan kerja sama dalam bisnis yang sudah mereka rintis bersama.
Dia beralasan semua demi memenuhi permintaan kedua orangtuanya yang tak ingin melihatnya menyandang status janda untuk kedua kalinya.
Sementara itu Rosianto (37) warga Jebres mengaku jarang bertengkar dengan sang istri selama beberapa tahun pernikahan. Dia mengaku  hanya meributkan hal-hal yang sifatnya prinsipil seperti masalah pendidikan anak atau pola asuh anak. Atau jika mentok maka keduanya pun harus saling mengalah dan tidak memperpanjang masalah.
Untuk mempertahankan sebuah hubungan  baik itu bisnis, pertemanan maupun rumah tangga maka yang paling dibutuhkan adalah komunikasi. “Dalam sebuah hubungan suami-istri yang berkualitas pasti di dalamnya ada  komunikasi efektif yang terbangun,” jelas Psikolog Keluarga dan Anak Juliani Prasetyaningrum.
Juliani menjelaskan hubungan suami istri yang berkualitas itu ditandai dengan adanya komunikasi yang berlangsung terbuka di antara keduanya. Contohnya sang suami akan dengan mudah memberikan kritik dan saran kepada istri dan si istri pun sama. Keduanya mampu memberikan kritikan dan pujian secara tepat sehingga tidak ada yang merasa tidak berimbang.
Hal lain yang perlu disadari adanya penanaman pola pikir sejak awal bahwa keduanya memiliki orientasi yang sama yaitu fokus menjalankan kewajiban. Memenuhi hak dari pasangan adalah kuncinya, karena dengan begitu keduanya akan merasa nyaman menjalankan kewajiban sebagai suami maupun sebagai istri.
“Contoh sederhana sesibuk apapun sebagai istri ya usahakan menemani suami di meja makan meskipun tidak ikut makan, hanya duduk pasti sang suami merasa senang karena ternyata istriku masih peduli denganku,” paparnya.

Sumber/Wartawan/Penulis : Kukuh Subekti