Dedikasi dan loyalitasnya membuat organisasi melamar dirinya untuk menjadi pengurus.

Semangat berorganisasi telah mendarah daging dalam dirinya sejak belia. Usia senja tak menjadi halangan untuk mengemban amanah umat.
Bahkan, di usia senja  sosok ini masih energik mengurus lima yayasan sekaligus. Itulah yang tergambar dari perjuangan Hj E Trihayutiningsih, Ketua Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surakarta.
Perempuan yang  disapa Bu Titin Fanani ini mengungkapkan, dedikasi dirinya pada berbagai organisasi hingga terlibat dalam dakwah bukan kebetulan. Darah santri mengalir dari kakeknya yang merupakan naib di jalan Belanda. Perkenalannya dengan aktivitas sosial masyarakat dan organisasi juga dikenalnya sejak kecil.
“Orangtua saya mengajarkan organisasi sejak kecil. Kalau bertemu bupati atau rapat-rapat saya pasti diajak,” ujar istri Guru besar UNS Prof Moh Fanani itu.
Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1965 menjadi bencana bagi keluarganya. Keluarga Titin tercerai berai dan harus mengungsi. Ia terpisah asuhan dengan dua kakaknya. Karena, anak bungsu Titin tetap diasuh oleh ibunya, sedang dua kakaknya diasuh oleh pamannya.
Hal ini dirasa membawa dampak bagi pengetahuan agama. Titin merasa pendidikan agamanya sangat kurang. Pasalnya, sejak kecil hingga dewasa ia bersekolah di sekolah umum. Kesadaran untuk kembali pada jati dirinya yang lahir dari kalangan santri muncul saat duduk di bangku sekolah menengah.
Ia mulai berani menyuarakannya saat mengeyam pendidikan di perguruan tinggi. Hal itu ditunjukkan dengan mendesak pihak kampus untuk membuat musola.
“Setelah dewasa saya dan kakak-kakak saya sadar bahwa kami lahir dari kaum santri dan harus melanjutkan estafet dakwah,” ujarnya.
Titin juga terlibat dalam kepengurusan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Surakarta  yang diikuti 40 organisasi wanita di Solo, Pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) hingga dinobatkan sebagai ibu teladan. Titin mengaku tidak pernah mendaftar sebagai anggota organisasi. Dedikasi dan loyalitasnya membuat organisasi melamar dirinya untuk menjadi pengurus.
“Saya tidak pernah mendaftar, tapi dilamar organisasi. Patut disyukuri, dari organisasi saya mendapat banyak pengalaman terutama manajerial dan leadership. Ini semua juga tidak lepas dari dorongan suami saya, dia ridha saya aktif dalam berbagai organisasi,” imbuhnya.
Loyalitas dan totalitasnya dalam berorganisasi mengantarkan Titin terlibat dalam roda dakwah. Selama 20 tahun ia menjadi pengurus Badan Koordinasi Taman Pendidikan Quran (TPQ) Jawa Tengah hingga mendapat amanah sebagai wakil ketua. aktivitas dakwah dalam Majelis Ulama Indonesia selama tiga periode. Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga.
Aktif berorganisasi membuat Titin peka terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Bahkan, ia mengaku prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. Di matanya, adab dan akhlak elite politik telah bobrok. Di sisi lain, keluarga yang menjadi lingkungan pendidikan pertama tidak didasari nilai-nilai agama. Akibatnya, anak tumbuh tanpa perhatian orangtua dan terjerumus dalam pergaulan bebas.
Pernah terbesit dalam pikiran Titin untuk terjun ke gelanggang politik sebagai wakil rakyat. Ia mengaku sempat dilamar beberapa Partai Politik (Parpol). Sempat juga terbesit dalam benaknya, jika ikhtiar menjadi wakil dapat menjawab kebutuhan umat. Namun itikad itu pupus, ia tak melihat adanya adab yang baik dalam percaturan politik.
“Waktu Muda saya ingin menjadi anggota dewan, betul-betul saya ingin mengubah Solo menjadi lebih baik. Sampai sekarang banyak yang melamar untuk menjadi anggota dewan tapi belakangan saya lihat politik tanpa adab, akhirnya saya mantap tidak berjuang di ranah  Parpol,” ujarnya
Saat ini, ia mengaku mantap berjuang di medan dakwah.
Kini, selain menjadi pengurus MUI Kota Surakarta Titin juga aktif menjadi pengurus sejumlah yayasan, Pondok Pesantren Darul Quran di Colomadu termasuk salah satu yayasan yang menjadi tempatnya dalam mendedikasikan diri.

Sempat Jadi Ketua RT

Siapa sangka, selain aktif dalam berbagai organisasi, perempuan yang tinggal di Jalan Ceplok Nomor 5, Mangkuyudan, Serengan ini juga pernah menjabat sebagai ketua RT. Namun lantaran kesibukannya, Hj E Trihayutiningsih takut tak bisa amanah dan hanya menyelesaikan tugasnya dalam satu periode kepengurusan.
Titin mengaku mendapat banyak pengalaman berharga saat menjabat sebagai ketua RT. Meskipun menjadi satu-satunya RT perempuan di Kelurahan Serengan sat itu, ketegasannya tak kalah dengan kaum pria. Bahkan ia berhasil “menaklukkan” debt collector yang meneror warganya.  “Ada warga kami janda dan waktu itu pailit setiap hari dia didatangi debt collector dan bodyguard dari pihak yang memberikan hutang. Akhirnya saya hadapi mereka, kekerasan ternyata tidak menjadi solusi setelah dihadapi dengan pengertian  persolan bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” katanya
Tak hanya itu, ia juga pernah mendapat keluhan. Ada warganya yang terjerat perkara hukum padahal pelanggaran yang dilakukan lantaran tidak tahu aturan. Tak hanya itu, ada pula warga yang telah susah payah mendidik anak.
Di hadapan keluarga anak tersebut tampak baik dan santun, namun ternyata terjerumus pada pergaulan bebas.  “Kejadian kejadian itu menjadi pengalaman berharga bagi saya. Ada banyak karakter manusia dan persolan dalam masyarakat kita. Maka harus cermat dalam menyusun langkah langkah penyelesaian,” tandasnya.
Sementara, amanah sebagai ketua Komisi Perempuan Remaja dan Keluarga tak disia-siakannya. Dalam rangka menjawab persoalan umat Titin melakukan berbagai terobosan perbaikan. Hal itu ditunjukkan membuka program Rumah Konsultasi Keluarga Samara di Gedung MUI Kota Surakarta. Sebanyak 18 pakar  berhasil digandengnya untuk turut memberikan layanan konseling.  “Jujur saya geregetan dengan kondisi bangsa saat ini. Elite politik kita adanya sudah bobrok. Tapi geregetan saja tidak menjawab persoalan, saya melihat untuk menyelamatkan generasi kita saat ini mula-mula dengan memperbaiki keluarga,” ujarnya
Titin berharap Rumah Konseling Keluarga Samara dapat membawa manfaat bagi umat. Baginya, ibu adalah madrasah bagi anak, mendidik ibu berarti menyelamatkan generasi.

Sumber/Wartawan/Penulis : Arief Setiyanto