Apakah keluarga Anda lelah? Mungkin keluarga Anda masuk ke dalam kategori keluarga yang stres. Entah karena orangtua sibuk kerja dan mengurus anak, anak kurang perhatian, atau hubungan antaranggota keluarga sensitif.
Hal itu, mungkin dialami keluarga Dian (30). Saat jam pulang kantor, dia merasa malas pulang ke rumah. Entah kenapa dia malas bertemu suami dan anak-anaknya. Sehingga, dia memilih untuk pulang terlambat, kadang jalan-jalan ke mal atau sekadar janjian makan dengan kawan.
“Nggak tahu, kalau ketemu suami malah penginnya bertengkar. Padahal nggak ada yang salah. Cuma di hati ini ada yang mengganjal, penginnya marah-marah. Biar undak stres saya pilih main dulu,” jelasnya.
Efeknya, si kecil sering juga kena marah lantaran kerap kali tingkah mereka bikin hati Dian anyel. “Si kecil sering rewel, sementara kakaknya kalau dibilangi malah gantian marah-marah,” katanya.
Ya, stres dapat mengancam semua orang. Tapi bila tidak disadari dan ditangani bisa menyebabkan frustasi. Suasana rumah sangat panas atau sangat dingin, tak ada kehangatan lagi.
Suasana rumah justru banyak tangisan, teriakan dan pelampiasan kemarahan. Untuk mencegah stres dalam keluarga, kenali tanda-tanda ini, seperti dilansir Okezone dari Parents, Rabu (31/5).
Bila tingkat stres Anda berada pada titik tertinggi, tidur adalah salah satu korban pertama. Insomnia! Kurangnya mata beristirahat bisa membuat Anda mudah tersinggung, cemas dan, stres. Jika Anda dan keluarga merasakan ketegangan, “Buat anak-anak tertidur sebelum Anda tidur setengah jam kemudian,” kata Tanya Altmann, MD, seorang dokter anak di Calabasas, California.
Tak ada suara lembut di rumah, ibu memanggil anak dengan berteriak, kemudian anak menjawab dengan teriak pula. Itu merupakan ciri-ciri keluarga yang stres. Atasi dengan memeluk anak dan bicara dari hati ke hati dengan penuh kelembutan.
Mary Alvord, PhD, seorang psikolog di Rockville, Maryland, yang juga seorang koordinator pendidikan publik untuk American Psychological Association menyatakan, sangat menyedihkan ketika orangtua melewati makan malam keluarga karena stres, anak menjadi korban. Anak-anak jadi kurang perhatian dan hubungan dengan orangtua merenggang.
Selama masa stres tinggi, beberapa anak akan menutup diri dari orang lain. Anak-anak yang lebih tua mungkin bisa akan menghabiskan waktu di kamar dan malas bermain dengan teman-teman. “Bicaralah dengan anak-anak dan teruslah berbicara secara terbuka untuk meluruskan apa yang terjadi,” kata Dr Alvord.

Sumber/Wartawan/Penulis : Amrih Rahayu