Di hutan siapa yang tidak mengenal kijang, si pelari kencang. Kemanapun ia pergi, bisik-bisik kekaguman hampir dilakukan para penghuni hutan. Setiap kali kijang lewat, semua tak enggan untuk menyapa. “Hai kijang!”, sapa kelinci yang sedang mengangkut wortel untuk makan siang. “Hai juga pak Kelinci,” sapanya dengan riang.
Selain ia dikenal sebagai pelari yang kencang, ia juga dikenal sebagai hewan yang ramah dan peduli terhadap sesamanya. Tak heran jika di hutan ia banyak disenangi dan dimintai pertolongan. Semua itu dilakukan kijang dengan riang.
Pernah suatu hari keluarga monyet panen pisang di pinggir hutan. Saat sedang membawa pisang yang telah di panen untuk dibawa pulang, tiba-tiba pak Monyet terkantuk batu sehingga pisang yang dibawanya jatuh ke tanah. Semua ketawa melihat apa yang menimpa pak Monyet dan tidak menolongnya. Berbeda dengan Kijang, melihat apa yang sedang terjadi ia segera tanggap menolongnya. Ia tidak seperti penghuni hutan kebanyakan yang menertawakan penderitaan, tetapi segera tanggap untuk menolong tanpa pandang bulu. Hal inilah yang membuat Kijang disenangi dan disegani oleh siapapun yang ada di hutan.
Pun ketika Harimau yang mencoba menerkamnya tetapi gagal sebab kakinya terjerembab pada lubang tak ditinggalnya. Ia malah membantunya keluar dari lubang itu. tanpa rasa takut ia tetap membantu. Bahkan tak ada rasa benci akibat perlakuan Harimau tersebut. Semenjak itulah, Harimau yang ada di hutan tak mau memangsa Kijang.
Jika terjadi perdebatan antara harimau dan singa atas hewan buruan yang dimangsa, kijang berusaha menjadi penengah diantara keduanya. Sehingga kehancuran atas sesama pemangsa tidak terjadi. Ia berlaku adil terhadap keduanya meskipun kijang juga tau ia termasuk bagian dari yang terancam. Begitulah kenyataannya yang terjadi.
Melihat kijang yang selalu dikagumi, selalu dielu-elukan, dan juga dihormati atas tingkah lakunya tersebut semut merah menjadi iri. Semut merah tidak suka melihat kijang menjadi yang paling dikagumi di hutan. Setiap kijang lewat selalu saja penghuni hutan membicarakannya. Sehingga membuat gatal telinga semut merah mendengarnya.
Maka timbulah keinginan semut merah menantang kijang untuk lomba lari. Mendengar niat itu, kaki seribu menertawakan ide yang dibawa oleh semut merah. “Hahahaha, buat apa kamu itu mengajak lomba lari kijang yang jelas-jelas larinya sudah kencang?”
“Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi,” sahut semut merah dengan sinis.
“Lakukan saja, asal kamu bahagia dan tak malu jika pada akhirnya menemui kekalahan,” jawab kaki seribu.
“Baiklah,” seru semut merah yang mulai kesal atas ejekan kaki seribu.
Mendengar kabar itu kijang menanggapinya dengan santai. Ia tidak sombong dan tetap bersikap ramah kepada siapapun. Ketika ditanya bagaimana tanggapannya, ia mengaku jika memang suatu keharusan ia akan tetap menghadapi tantangan itu.
Semakin riuh kekaguman penghuni hutan atas keberanian kijang tanpa kesombongan. Meskipun dalam bayangan penghuni hutan semuanya berpikir jika kijang pastilah yang akan memenangi perlombaan lari itu. hal inilah yang membuat semut merah semakin membenci kijang.
Semut merahpun mencari strategi bagaimana mengalahkan kijang sementara ia menyadari bahwa tubuhnya yang kecil tak mampu menyaingi kijang yang memang larinya kencang. Ia berpikir keras bagaimana tubuhnya yang kecil itu mampu mengalahkannya. Meskipun banyak hewan lain yang menasihati semut agar mengurungkan niatnya melawan kijang, ia tetap tak menggubris. Ia tetap pada pendiriannya, tidak menyukai kijang.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia mampu menyiasati perlombaan itu. Ia merencanakan sesuatu yang tidak diketahui semua yang ada di penghuni hutan. Bahkan menurutnya ini rencana yang paling aman dan dijamin akan berhasil.
Tibalah hari perlombaan lari yang telah dipersiapkan oleh seluruh penghuni hutan. Sorak sorai penonton yang mengagungkan kijang begitu banyak. bisik-bisik atas rasa kasihan terhadap semut juga tak kalah banyaknya. Bahkan beberapa kali belalang menasihati semut merah agar mengurungkan niatnya tetapi ia tetap teguh pada apa yang telah menjadi keputusan.
Di garis start, tampak mereka berdua bersiap siaga. Babi hutan selaku penjaga gawang start memulai membacakan peraturan dan memulai aba-aba. “Hitung mundur, 3… 2… 1… mulai!” Maka tanpa ba bi bu, kijang berlari kencang. Semut merah yang kecil juga melakukan hal yang sama. Sorak sorai dilakukan oleh seluruh penghuni hutan yang menyaksikan.
Tanpa disadari oleh semuanya, jika penghuni hutan lebih teliti di lintasan lomba lari tersebut ada barisan semut yang berjejer rapi dan panjang. Mereka terlihat tak nampak. Tetapi semuanya berbaris rapi dengan pola lurus menuju garis finish. Rupanya hal ini luput oleh semua bahkan kijang sendiri.
Setiap kali kijang lari, seolah-olah semut juga sedang lari menyamai lari kijang. Padahal sesungguhnya itu merupakan deretan koloni semut yang memang menjadi ide licik semut merah untuk mengalahkan kijang. Ia mengundang seluruh kerabatnya untuk bergotong royong mengalahkan kijang dalam perlombaan lari ini.
Mendekati finish, kijang berusaha lari sekencang-kencangnya. Tetapi dasar semut merah licik, ia juga telah mengatur strategi untuk merayap ditubuh kijang. Menggigit dan membuat tubuhnya gatal. maka, tubuh kijang tiba-tiba oleng dan ia terjatuh akibat gigitan dan mengalami gatal yang tak terhankan sehingga membuat tubuhnya jatuh terguling ke tanah.
Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh semut merah yang telah mengatur strategi liciknya dengan sempurna, ia pun seolah-olah lari lebih unggul daripada kijang menuju garis finish. Riuh gaduh penghuni hutan yang menonton perlombaan tersebut mendadak diwarnai rasa kaget. Sebab semut merah yang muncul, bukan kijang. Tetapi sorak sorai tanda semaraknya perlombaan tetap bergemuruh. Dan memasuki garis finis, semut tampak berjalan dengan santainya. Ia resmi menjadi pemenang setelah pak monyet yang menunggu garis finis mengatakan, “Inilah juara baru pelari yang terbaik diantara yang terbaik, yakni semut merah,” serunya lantang.
Kijang bangkit dan melanjutkan larinya setelah rasa gatal hilang. Ia juga sampai finis meskipun sorak sorai penghuni hutan telah berpindah kepada semut merah. Ia merasa biasa saja dengan kekalahan tersebut. Ia juga mengucapkan selamat kepada semut merah atas kemenangannya. “Selamat semut merah, ternyata kamulah juaranya,” ucap kijang. Semut hanya mengangguk dan tenggelam dalam riuh sorak sorai kemenangan dan kelicikan yang diciptakan. Sementara kijang dan penonton tidak pernah tahu akan hal ini.

Sumber/Wartawan/Penulis :
*Penulis adalah anggota Forum Penulis Muda IAIN Ponorogo