CARDIFF—Real Madrid sukses merengkuh La Duodecima alias gelar ke-12 Liga Champions. Adalah entrenador Real Madrid, Zinedine Zidane merupakan aktor penting di balik kesuksesan Real Madrid.
Madrid menghadapi salah satu final terberatnya ketika harus bertemu Juve di Millenium Stadium, Minggu (4/6) dinihari WIB tadi. Bagaimana tidak ketika mereka sudah ditekan Juve yang tancap gas sejak menit awal.
Bahkan Juve dalam kurun waktu kurang dari 10 menit sudah punya tiga attempts dengan dua mengarah tepat ke gawang. Madrid pun sepertinya bakal berada di bawah tekanan Juve sepanjang laga.
Namun, Madrid akhirnya unggul duluan pada menit ke-20 ketika attempts pertama mereka di pertandingan ini langsung menjebol jala Gianluigi Buffon lewat usaha Cristiano Ronaldo.
Hanya berselang enam menit setelahnya, Mario Mandzukic menyamakan skor lewat gol akrobatik Mario Mandzukic.
Namun skor 1-1 bertahan hingga pertandingan usai. Squawka mencatat ada delapan attempts dibuat Juve berbanding lima attempts yang dibuat oleh Madrid, yang membuktikan bagaimana Madrid kerepotan di babak pertama.
Tapi selepas jeda, entah apa yang dibisikkan atau dilakukan Zidane di ruang ganti ketika para pemain Madrid seperti kesetanan dan tak memberikan kesempatan Juve bernapas sama sekali.
Alhasil El Real mampu menambah dua gol dalam selang empat menit lewat Casemiro di menit ke-60 dan gol kedua Ronaldo di menit ke-64. Ketika statistik UEFA muncul usai dua gol tadi, Juve terbukti ‘mati kutu’ karena tak membuat satupun attempts maupun korner! Madrid menang 4-1 dan sukses membawa pulang lagi trofi Liga Champions ke ibukota
“Wejangan Zidane begitu positif. Dia sangat yakin kepada kami dan di babak kedua kami pun memperliatkan bahwa kami itu tim yang sangat bagus. Saya ingin berterima kasih kepada fans atas dukungan mereka dari awal Liga Champions musim ini. Misi kami adalah memenanginya lagi musim depan. Apapun bisa terjadi,” sambungnya.
Zidane pun berhasil mengangkat trofi Liga Champions keduanya dalam kurun waktu setahun, setelah di Milan tahun lalu saat mengalahkan Atletico Madrid di final. Dia jadi pelatih pertama setelah Arrigo Sacchi yang mampu juara dua kali beruntun di turnamen ini pada tahun 1989 dan 1990.
Dengan segala pencapaiannya ini, Zidane pun dielu-elukan oleh fans Madrid dan juga publik sepakbola yang mulai mengganggapnya sebagai pelatih terbaik dunia saat ini. Tapi Zidane merendah dan memilih fokus untuk mempertahankan prestasi ini di musim depan.
“Saya bukan pelatih terbaik di dunia. Tentu saja, saya akan terus lanjut di sini… Kami sudah berpikir soal musim depan tapi kini kami ingin menikmati dulu kemenangan ini, “ tutur Zidane kepada Antenna.

Sumber/Wartawan/Penulis : Cisilia Perwita S | Detik