Jelang hari raya Idul Fitri kerap dimanfaatkan konsumen untuk mengganti kendaraan lama dengan model baru. Hal ini karena biasanya diler mobil menawarkan banyak promo dan diskon yang menarik.
Konsumen yang hendak membeli mobil baru jelang lebaran, kata wiraniaga diler Nissan Datsun di Jakarta Timur, Fina, jangan hanya terbuai dengan program spesial. Mereka juga harus memerhatikan waktu yang dibutuhkan untuk proses pengurusan surat-surat mobil.
“Kalau beli tunai, enggak terlalu masalah. Tapi, kan sekarang banyak yang kredit, karena promonya banyak. Waktu pembelian juga harus diperhatikan, karena waktu (untuk pengurusan dokumen) lebih lama,” kata dia dilansir Viva.
Ia menjelaskan, untuk pembelian secara kredit, konsumen harus melalui proses survei dari pihak pembiayaan terlebih dulu. Jika disetujui, baru mulai tahap pengurusan unit dan pengajuan surat-surat kendaraan. “Kalau beli mobil jelang lebaran, waktunya mepet untuk pengurusan surat-surat. Jangan sampai mobil enggak bisa dibawa mudik karena surat belum selesai,” ujar dia.
Senada dengan Fina, salah seorang tenaga penjual dari diler resmi Toyota di Jakarta Pusat, Riza, mengatakan, proses pembelian mobil secara kredit membutuhkan banyak tahapan.
“Pertama itu surat pemesanan kendaraan (SPK) dan membayar booking fee. Kemudian, kami ajukan ke leasing dan akan dilakukan survei serta validasi. Proses ini bisa sampai tujuh hari kerja. Kalau leasing setuju, masuk ke tahap purchase order (PO). Proses PO saat mobilnya ready stock kalau enggak ready, ya tunggu dulu,” kata Riza.
Executive General Manager PT Toyota Astra Motor Fransiscus Soerjopranoto mengatakan jelang hari raya Idul Fitri kerap menjadi momen untuk mengganti mobil baru. Menurutnya permintaan yang meningkat memang membuat diler memberikan program atau paket menarik.
“Nah kalau menjelang lebaran itu memang banyak orang beli mobil makanya kalau kita punya program segala rupa,” ujar Soerjo dilansir Viva
Pembeli mobil baru sebelum lebaran, kata Soerjo, ada dua tipe berbeda. Pertama mereka yang memilih mobil dengan emotional stylish, artinya lebih mementingkan desain dan tampilan mobil. Pembeli kedua, ujar Soerjo adalah functional buyer. Mereka membeli mobil seusai dengan kebutuhannya dan menomorduakan desain. “Itu kedua beda segmennya ya,” kata Soerjo.
Ditanya soal ada konsumen yang kerap tidak sanggup membayar setelah mobil dipakai mudik, Soerjo mengatakan, persetujuan dan kemampuan seseorang sebelum membeli mobil harusnya sudah bisa dilihat oleh perusahaan pembiayaan.
“Pada saat financing company mau menyetujui pembiayaan tersebut, kan melakukan validasi ke customer. Kalau dianggap enggak oke ya tentunya tidak akan disetujui. Lembaga pembiayaan punya target, mereka NPL-nya enggak boleh lebih dari 5 persen, itu aturan OJK. Jadi kalau mereka mau membiayai terus sampai ditarik banyak, ya itu problem bagi mereka,” katanya.

Sumber/Wartawan/Penulis : Cisilia Perwita S