Demi menghapus kesan kumuh, warga Kampung Gerdu, Sragen berkreasi. Hasilnya, wajah kampung berhasil disulap menjadi kampung pelangi.

Wardoyo

Memasuki Kampung Gerdu, RT 1/5, Sragen Tengah saat ini, suasana berbeda akan terlihat di sana. Begitu masuk gerbang kampung yang berlokasi di tepi Sungai Garuda di pusat jantung kota Sragen itu, aneka lukisan warna warni sudah menyapa.
Semarak warna dan lukisan beragam tema makin terasa begitu masuk ke gang-gang di kampung dengan penduduk 40 kepala keluarga (KK) itu. Ada lukisan burung garuda, Pancasila, imbauan anti narkoba hingga ikrar sumpah pemuda yang semua dilukis dengan banyak warna.
Aneka lukisan itu seolah menghapus kesan kumuh yang selama ini melekat di kampung 40 kepala keluarga (KK) tersebut. Hebatnya, ternyata, perubahan pada wajah kampung Gerdu ini baru dilakukan sekitar dua pekan terakhir.
“Awalnya Pak Lurah menyampaikan kalau Kampung Gerdu ini sudah lama masuk kategori  kampung kumuh. Makanya, kami bertekad mengubah predikat itu, “ ujar Ketua RT 1/5, Suripto, Selasa (6/6).
Tekad besar untuk merubah citra kampung kumuh itu dimulai dengan menggerakkan warga mengumpulkan dana swadaya untuk membeli cat. Dengan sedikit bantuan dari donatur, akhirnya dibelikan cat dan dilukis bersama-sama oleh warga.
“Kadang disambi pas sore, kadang sambil nunggu sahur sampai akan subuhitu. Pokoknya sak longgare. Nggak dipatok harus jadi berapa hari. Untuk catnya sebagian bantuan dari donatur.Kemarin ada yang bantu Rp 100.000 kita belikan cat dapat empat kaleng.Empat kaleng itu dapat dua rumah,” terangnya.
Menurutnya, kampung pelangi yang digagasnya memang belum sesempurna yang ada di Malang maupun luar negeri. Sebab sejauh ini yang dicat baru tembok dan dinding serta pagar. Secara bertahap, warga siap untuk terus membenahi sembari menunggu ketersediaan dana.
Lurah Sragen Tengah, Supriyadi membenarkan bahwa Kampung Gerdu memang sempat dijuluki kampung kumuh yang dikukuhkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati bersama dua kampung lain di Sragen Kota yakni Kampung Tlebengan dan Teguhan.
“Setelah dipegang Pak RT yang baru itu, kemudian muncul ide mengubah kampung kumuh jadi kampung pelangi. Kalau desa hanya men-support bantuan sedikit, konsepnya sebagian melihat di Malang dan Semarang yang sudah lebih dulu ada,” jelasnya.
Salah satu warga, Jumadi (40), mengakui gerakan mengubah wajah kampung pelangi itu memang dirintis oleh Ketua RT Suripto. Ia membenarkan biaya untuk membeli cat berasal dari swadaya warga ditambah donatur. “Ngerjakannya bareng-bareng pas ada waktu longgar. Kadang ya sore menjelang buka puasa, kadang malam hari sambil nunggu sahur,” terangnya.

Sumber/Wartawan/Penulis :