Prof Dr Komaruddin H
Guru Besar UIN Syarief Hidayatullah

Mari kita buat simulasi dan eksperimentasi, menghilangkan kata maaf dalam kehidupan sehari-hari. Pasti muncul jurang psikologis yang menganga antara kita. Mengapa? Karena tiap orang tak bisa terbebaskan dari berbuat salah.
Kapan saja, di mana saja, disengaja atau tidak disengaja seseorang melakukan kesalahan yang bisa merugikan diri sendiri atau orang lain.
Tanpa adanya kata dan mekanisme saling memaafkan, betapa pengapnya hidup ini. Kesalahan yang terjadi pada seseorang itu bisa bermula dari salah niat atau salah dalam mengambil keputusan.
Coba hitung sendiri, setiap hari berapa banyak kita mesti membuat keputusan mengingat setiap saat selalu dihadapkan beragam pilihan. Sejak dari urusan yang terlihat kecil, misalnya begitu bangun tidur, kita dihadapkan pada pilihan adakah mau mandi dulu baru kemudian sarapan, seseorang mesti membuat keputusan.
Ketika memulai berkomunikasi, kata, nada, dan kalimat apa yang hendak kita gunakan, itu pun pilihan. Ketika membuka almari mau mengambil pakaian, itu pun sebuah pilihan.
Ketika ada telepon berdering, apakah akan diangkat ataukah didiamkan, itu pun sebuah keputusan. Pendeknya, setiap hari kita membuat ratusan keputusan dan pilihan, yang semuanya potensial terjadi kesalahan.
Masalahnya adalah ketika membuat salah dalam mengambil keputusan yang kemudian berakibat fatal baik bagi kehidupan pribadi maupun sosial. Lagi-lagi contoh kecil. Ketika kita mengendarai mobil dan dihadapkan untuk memilih jalan tol, jika salah ada kalanya perjalanan menjadi panjang atau bahkan sesat jalan.
Demikian pula halnya dengan rute kehidupan. Ada mahasiswa yang salah memilih program studi, semata karena tidak punya pertimbangan matang atau sekadar memenuhi desakan orangtua, akhirnya tidak antusias menjalani perkuliahan dan tidak meraih prestasi optimal karena tidakcocokan dengan bakat dan minatnya.
Ada lagi orang yang salah memilih pasangan hidupnya. Bayangan dan kesempatan membangun rumah tangga surgawi malah berubah jadi penyesalan karena penuh percekcokan dan saling tidak percaya, sehingga berujung pada perceraian.
Dalam kehidupan keluarga, tak ada yang terbebaskan dari berbuat salah. Bisa saja bergantian antara suami, istri, anak, pembantu, menantu, mertua, tetangga, dan melebar lagi di lingkungan tempat kerja.
Bayangkan jika manusia tidak mengenal kata maaf, tidak ada mekanisme untuk saling maaf memaafkan dan jika semuanya pendendam, betapa menjemukan dan melelahkan hari-hari yang kita lalui. Energi kita akan terkuras habis untuk merancang pembalasan. Hati dan pikiran akan dipenuhi sampah dan sumpah kebencian serta kekesalan yang kian lama kian membusuk dan mengeras.
Mengingat manusia adalah makhluk lemah, sering lupa, dan berbuat salah, sehingga satu di antara Asma Allah adalah al-Ghafur. Dia yang Maha Pengampun, yang menghapus dan memaafkan dosa-dosa manusia.
Sampai-sampai ada ungkapan populer di kalangan sufi, kalau saja bukan karena kasih dan ampunan Allah, manusia tak pantas masuk surga. Dosanya lebih banyak dari amal kebaikannya.
Kalau saja Allah membuka tabir aib kita, orang-orang di sekeliling kita akan terbelalak kaget dan meninggalkan kita. Bahwa kita tidak sebaik yang mereka duga.

Saling memaafkan
Kebenaran ajaran agama tentang maaf-memaafkan ini tidak sulit dibuktikan secara empiris, dibantu ilmu jiwa. Orang yang hatinya dipenuhi rasa marah, dendam, dan kecewa pada orang lain, pasti terasa berat membawanya.
Bayangkan, orang membawa beban fisik saja meskipun ringan jika terus-menerus pasti akan letih. Begitu juga halnya orang yang menyimpan kejengkelan dan kebencian di hati, lama-lama akan semakin terasa berat jika tidak dilepaskan.
Ada orang yang melepaskan kebencian dengan cara menumpahkannya pada orang yang dibenci. Apa yang terjadi? Bisa jadi akan lepas sementara, tapi setelahnya justru akan membesar jika terjadi perlawanan balik.
Perhatikan saja, sering terjadi perkelahian fisik yang bermula dari adu mulut. Akibatnya luka di hati kian menganga. Cara terbaik mengurangi beban yang menjadi penyakit hati adalah saling maaf memaafkan.

Sumber/Wartawan/Penulis :