Rusdi Mustapa, S.Pd
Guru MAN 1, Solo

Salah satu karakter guru sebagai pendidik yang hebat adalah mampu mengembangkan profesionalismenya, yang salah satu bentuknya adalah menulis.

Budaya menulis sangat sedikit peminatnya dibandingkan budaya yang lain. Hal ini dikarenakan dibutuhkan keterampilan saat menulis seperti memilih dan mengolah kata, serta keterampilan mengaitkan kalimat satu dengan yang lain. Wajar bila tidak sedikit guru yang mengalami kesulitan mengerjakan karya pengembangan diri, misalnya membuat Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Membuat membuat PTK memang tidak semudah yang diperkirakan. Banyak guru yang mengalami kendala dalam melaksanakan kegiatan pengembangan profesi guru yang satu ini. Secara umum, persoalan yang dihadapi saat melaksanakan kegiatan PTK sering berawal dari beberapa hal.
Pertama, terbatasnya waktu. Ini dikaitkan dengan beban mengajar per minggu dan tugas lainnya. Guru sertifikasi mempunyai beban mengajar tatap muka 24 jam per minggu. Belum lagi tugas tambahan lain di sekolah, tugas administratif dan bimbingan.
Kedua, kemampuan menulis laporan. Hal ini berhubungan dengan kemampuan guru dalam menyampaikan gagasan kepada orang lain melalui karya tulis dalam bentuk makalah, diktat, hand out, tulisan ilmiah populer dan lain sebagainya. Guru dituntut bisa membuat karya tulis ilmiah dan mempublikasikannya.
Sebagai seorang guru sudah semestinya mampu memberi contoh kepada peserta didik untuk menulis. Ada banyak manfaat yang bisa diambil dari menulis, seperti wawasan maupun tambahan penghasilan. Kata kuncinya adalah jangan pernah berhenti belajar.
Haram hukumnya jika guru sampai berhenti belajar karena mereka harus mengajar. Bila sampai terjadi guru berhenti belajar, ilmu yang disampaikan pun akan stagnan. Maka jika guru sudah malas belajar, guru tersebut harus bersiap meninggalkan pekerjaannya.
Di negara maju, menulis telah menjadi gaya hidup masyarakat. Aktivitas menulis biasanya berbanding lurus dengan aktivitas membaca. Dengan kata lain, budaya literasi masyarakat sudah tinggi. Membudayakan membaca dan menulis perlu proses jika dalam suatu masyarakat kebiasaan tersebut belum terbentuk.
Data statistik Unesco 2012 menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Angka UNDP juga mengejutkan bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen saja. Sedangkan Malaysia sudah 86,4 persen.
Pasal 1 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Secara sederhana dapat digambarkan bahwa tugas guru adalah mengajar dan mendidik. Sebagai seorang pengajar, guru mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) kepada para siswa. Hal ini berkaitan dengan penguasaan pada ranah kognitif dan membekali keterampilan pada ranah psikomotorik, sedangkan tugas guru sebagai pendidik adalah menanamkan sejumlah nilai, moral, normal (transformation of value) kepada siswa agar menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur.
Dengan kata lain, mendidik bergerak pada ranah afektif, dan hal ini menjadi fondasi terhadap ranah kognitif dan psikomotor. William Arthur Ward menyampaikan bahwa guru biasa hanya memberitahu, guru baik menjelaskan, guru yang sangat baik menunjukkan, guru hebat menginspirasi. Kalimat inspiratif tersebut sudah sangat sering dikutip atau disampaikan baik melalui buku, poster atau pada saat pelatihan. Tujuannya untuk memotivasi guru agar jangan hanya menjadi jadi guru biasa-biasa saja, tapi menjadi guru yang hebat.
Salah satu karakter guru sebagai pendidik yang hebat adalah mampu mengembangkan profesionalismenya, yang salah satu bentuknya adalah menulis. Berdasarkan Permenegpan RB Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, seorang guru wajib menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI) untuk dapat naik pangkat.
Dengan kata lain, menulis dapat menunjang untuk pengembangan karier guru. Berkaca dari hal tersebut, lahirlah program yang mendorong guru untuk menulis buku dalam waktu tertentu yang diselenggarakan oleh organisasi profesi atau komunitas guru.
Misalnya yang digagas oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) dengan gerakan Sagusaku (Satu Guru Satu Buku). Guru dibimbing melalui pelatihan intensif dan akhirnya bisa menghasilkan buku. Guru yang rajin atau terampil menulis adalah guru yang istimewa, karena tidak setiap guru mampu melakukannya.

Sumber/Wartawan/Penulis :