SRAGEN—Motif aksi teror penembakan ke rumah dan mobil milik Priyo Dwi Sambodo (36), aktivis LSM Topan RI yang juga rekanan proyek asal Kampung Banjar Asri, Nglorog, Sragen yang dilakukan dua pelaku akhirnya terkuak. SY alias KPK (40), warga Desa Siwalan, Kecamatan Ngrampal, Sragen yang menjadi otak penembakan itu, diketahui sakit hati karena jatah fee dari lelang proyek yang dimintanya tidak digubris oleh korban. Kapolres Sragen, AKBP Arif Budiman mengungkapkan, untuk mengusut kasus itu, tim Reskrim dipimpin Wakapolres telah melakukan pemeriksaan secara maraton terhadap 12 saksi.

Dari keterangan saksi-saksi dan hasil olah TKP, akhirnya mengerucut pada kesimpulan bahwa aksi teror berondongan tembakan yang dilakukan KPK bersama oknum TNI AU berinisial MM (41), asal Colomadu, Karanganyar, dilatarbelakangi oleh rasa sakit hati.
“Motifnya sakit hati. Karena apa yang diminta oleh tersangka ini tidak diakomodir oleh korban. Utamanya terkait dengan permintaan untuk jatah fee proyek atau lelang yang telah dilaksanakan. Korban ini diketahui tergabung dalam LSM Topan RI. Tapi kita juga dapatkan fakta korban ini juga memenangkan kegiatan lelang proyek di Sragen,” kata Kapolres saat memberikan keterangan pers di Mapolres, Sabtu (22/7).
Dari hasil pendalaman keterangan 12 saksi, Kapolres memastikan aksi penembakan dilakukan oleh tersangka SY alias KPK. Sedangkan peran oknum TNI AU hanya diajak atau disewa untuk menemani. Namun soal berapa fee yang diberikan KPK terhadap oknum TNI itu, menurutnya, terlalu teknis untuk disampaikan karena juga masih dalam pengembangan.
Saat ini tim juga masih mendalami persoalan itu secara komprehensif, bagaimana bisa terjadi minta meminta fee terkait kegiatan lelang proyek tersebut. Pendalaman diperlukan untuk menguak benang merah yang terjadi di balik lelang dan munculnya permintaan fee oleh tersangka.
“Jadi prinsipnya penanganan tidak hanya dari hilir, tapi akan kita tarik ke hulunya juga. Bagaimana bisa terjadi minta meminta fee, ini yang akan kita luruskan. Sehingga pembangunan bisa berjalan lancar tanpa harus dilakukan pemerasan,” jelasnya.
Pengungkapan motif itu juga klop dengan analisa sejumlah pihak yang menduga teror penembakan terkait erat dengan urusan proyek serta jatah fee. Motif itu juga diperkuat keterangan salah satu senior rekanan yang juga teman dekat korban berinisial HD, bahwa dua hari sebelum kejadian, tersangka KPK pernah menghubungi serta mendatangi rumahnya yang intinya meminta jatah. “Tidak hanya telepon, tapi malah datang ke rumah sini. Bilangnya minta mengerti gitu,” tukasnya.
Kapolres menguraikan, dari hasil olah TKP, tim menemukan 10 butir selongsong peluru dan proyektil yang berserakan di teras rumah, mobil, dan tangga rumah korban. Jumlah itu klop dengan kesaksian beberapa warga yang mendengar 10 kali letusan pada saat kejadian.
Mengenai perkenaan tembakan, enam peluru diketahui mengenai mobil Chevrolet milik korban yang diparkir di garasi. Sedangkan sisanya mengenai teras rumah, tangga, dan ditemukan di depan toko Sumber Logam. Seluruh barang bukti selongsong, peluru, proyektil, dan senjata api sudah diamankan untuk selanjutnya akan dilakukan uji balistik di Puslabfor Polda Jateng.
“Jadi pas. Ada tujuh selongsong yang ditemukan di TKP rumah korban. Yang tiga peluru ditembakkan di luar untuk peringatan dulu. Senjata api yang digunakan jenis FN dan yang berperan melakukan penembakan adalah tersangka S alias K (KPK),” terang Kapolres.
Saat ini tersangka SY alias KPK masih dalam perawatan intensif di RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen. Yang bersangkutan mengalami patah tulang dan baru selesai menjalani operasi tulang pada Jumat (21/7) malam.
Sedangkan oknum TNI AU sudah diserahkan ke Denpom Solo dan Pom TNI AU yang selanjutnya akan menangani proses terhadap oknum tersebut. Perihal perolehan senjata api, Kapolres mengaku, pihaknya sudah mengantongi data dari mana asal muasal senjata api diperoleh. Namun untuk kepentingan pengembangan penyelidikan, hal itu untuk sementara belum bisa disampaikan.
“Makanya kita akan lakukan pemanggilan dan pemeriksaan pihak-pihak terkait dari hasil pengembangan keterangan saksi yang telah diperiksa. Terutama pihak yang pernah dimintai atau dikenai oleh perbuatan tersangka,” tandasnya.
Soal apakah ada aktor intelektual di luar dua pelaku dalam kasus teror ini, Kapolres belum bisa berkomentar. Menurutnya, saat ini pihaknya masih mengintensifkan pengembangan penyelidikan untuk menuntaskan kasus tersebut.
Komandan Lanud Adi Soemarmo, Kolonel (Pnb) M Tonny Harjono, Jumat (21/7), membenarkan bahwa MM adalah anggota TNI AU yang masih aktif bertugas di kesatuannya. Hal itu diketahui dari hasil pengecekan yang dilakukan oleh tim khusus yang dikirimnya ke Sragen sesaat setelah kejadian. “Memang benar, kami sudah menerima laporan terkait kasus itu. Dia (MM) adalah anggota kami dan kami sudah menindaklanjuti dengan mengirimkan personel untuk mendalami kasus tersebut,” tandasnya.

Sumber/Wartawan/Penulis : Wardoyo