Di luar jam sekolah, biasanya anak menghabiskan waktunya dengan bermain, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler atau les di berbagai macam lembaga pendidikan. Namun saat ini, ada fenomena di mana orangtua mulai mempercayakan sekolah musik sebagai kegiatan tambahan setelah pelajaran sekolah usai.
Saat mendatangi salah satu sekolah musik di Solo, Gilang Ramadhan Studio Band (GRSB) di Solo Grand Mall, Joglosemar pun mendapati banyak anak sekolah duduk untuk sekadar menunggu giliran mereka main. Adapun suara dentuman musik drum telah terdengar dari salah satu kelas. Sang pemilik GRSB, A Djoko Santoso saat itu juga terlihat turut mendampingi salah satu muridnya.
“Di sini ada kelas drum, keyboard, piano, gitar klasik, gitar elektrik, bass, vokal, biola dan saksofon,”ungkapnya, Selasa (18/7).
Djoko mengaku sudah ada ratusan anak yang menjadi muridnya saat ini. Dijelaskan olehnya kurikulum yang dipakai di GRSB adalah mengenalkan anak pada rhythm terlebih dahulu kemudian melodi. Karena untuk anak usia dini yang sudah dikenalkan pada alat musik, maka baginya akan lebih mudah bila telah menguasai rhythm.
“Anak yang datang ke sini pasti saya tawari terlebih dahulu jenis alat musik seperti apa yang dikehendaki. Kemudian saya persilakan untuk mencoba satu persatu. Bila memang dia cocok untuk mencoba rhythm maka akan langsung saya arahkan. Namun bila dia cocok untuk memainkan melodi ya tidak apa-apa,”ungkapnya.
Menurut Djoko di GRSB anak akan diajarkan untuk mengenal 24 genre musik yang berbeda. Agar anak tidak monoton hanya bisa memainkan beberapa lagu saja. Namun yang perlu ditekankan adalah keinginan anak untuk bermain musik berasal dari pribadinya secara langsung. Bukan merupakan paksaan atau kemauan orangtuanya.
“Musik itu untuk hiburan jangan malah menjadi beban,” katanya.
Dengan pembelajaran seminggu sekali, lanjut Djoko, GRSB akan memberikan ujian kepada anak didiknya setiap tiga bulan sekali. Harapannya anak akan lebih cepat menangkap pelajaran yang diberikan dengan ujian yang lebih sering. Bentuk ujiannya adalah home concert. Yakni, dengan tampil di dalam mal yang mana tujuannya agar dilihat orang banyak.
“Kalau mereka dilihat orang banyak, otomatis itu juga akan melatih rasa percaya diri mereka dan menstimulasi agar bisa tampil dengan baik. Itu juga salah satu upaya kami untuk mempromosikan diri ke masyarakat,”tuturnya.
Djoko mengungkapkan adapula Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang belajar di tempatnya. Banyaknya manfaat musik bahkan bisa menjadi salah satu terapi untuk ABK melatih konsentrasi, mental dan kepribadiannya. Selain itu juga ada music playground yang diperuntukkan anak usia dua hingga lima tahun. Yang mana menurutnya perkembangan IQ anak akan lebih cepat bila sejak kecil ia sudah diperkenalkan dengan musik.
“Tidak hanya anak-anak, murid kami pun juga ada yang sudah tua. Mereka ke sini untuk melatih otot mereka dengan musik. Karena dengan bermain musik bisa menyembuhkan penyakit rematik hingga stroke,”ulasnya.
Dijelaskan Djoko, saat berlatih anak-anak akan dikumpulkan dalam satu ruangan yang menampung setidaknya lima hingga tujuh orang. Hal tersebut dimaksudkan agar jiwa kompetensi lebih cepat tumbuh. Selain itu juga meningkatkan hubungan sosial antara sesama teman sehingga bisa saling membantu.
“Setiap tahapan lamanya tiga bulan. Groove 1 untuk pengenalan genre musik. Groove 2 untuk mempelajari style, Groove 3 untuk ritme. Setelah itu ada reading class untuk membaca not balok kemudian penjurusan performance dan yang terakhir adalah rekaman di studio,”terangnya.
Diakui Djoko untuk belajar alat musik memang harus merogoh kocek lebih dalam untuk hasil yang terbaik. Biaya yang dipasang di tempatnya mulai Rp 250.000 hingga Rp 400.000 untuk les musik dan rhythm terapi. Sementara untuk music playground mencapai Rp 500.000 setiap bulannya.
Salah satu anak didik GRSB, Roseli (11) bercerita dirinya sudah hampir setahun belajar memainkan alat musik drum. Ia yang sudah memiliki drum sendiri di rumah pun kini sudah bisa memainkan sekitar 10 lagu dengan genre dan style yang berbeda.
“Memang suka dan nggak dipaksa orangtua,”katanya.
Salah satu orangtua, Farida Nur yang menyekolahkan anaknya di Sekolah Musik Indonesia, Pasarkliwon, Solo mengaku memang menginginkan anaknya untuk bisa bermain musik. Tujuannya agar anaknya memiliki hiburan yang positif setelah menjalani padatnya rutinitas sekolah.
“Ketika saya tawari, anaknya langsung mau dan memilih drum. Alhamdulilllah dia pun langsung tumbuh rasa percaya diri karena sering bermain di mal juga,”ucapnya.


Sumber/Wartawan/Penulis : Dynda Wahyu Wardhani