Kades Ngunut, SW yang didakwa menerima suap Rp 25 juta dari S, sudah divonis 1,5 tahun penjara.

KARANGANYAR—Kejari Karanganyar resmi menetapkan S, warga Desa Ngunut, Kecamatan Jumantono dalam kasus suap menyuap seleksi Perangkat Desa (Perdes) Ngunut tahun 2017. S ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan putusan majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang dalam sidang untuk berkas perkara terdakwa Kades Ngunut, SW, sebagai penerima suap.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Kejari Karanganyar, IDG Wirajana, Kamis (3/8). Ia mengungkapkan, untuk perkara suap menyuap proses seleksi Perdes Ngunut itu, Kades berinisial SW sudah divonis beberapa waktu lalu di Pengadilan Tipikor Semarang. SW yang didakwa menerima suap Rp 25 juta dari S, divonis 1,5 tahun penjara.
“Terdakwa yang berstatus sebagai Kades yakni SW sudah divonis dan sekarang sudah menjalani penahanan. Sekarang untuk oknum penyuapnya, ganti akan diproses sebagai tersangka penyuap,” ungkapnya.
Wirajana menguraikan, dalam amar putusan untuk terdakwa SW, majelis menetapkan kasus tersebut merupakan kasus penyuapan, di mana ada penyuap dan yang disuap. Atas putusan pengadilan, akhirnya S sebagai penyuap juga harus menjalani proses hukum.
Kronologi perkara ini bermula ketika SW menjanjikan kepada S bisa membantu meloloskan dalam seleksi perangkat desa dengan sarat membayar sebesar Rp 60 juta. S menyanggupi, namun hanya bersedia membayar Rp 25 juta. Meski di bawah harga, angka itu disepakati oleh keduanya.
Akan tetapi ternyata S tidak lulus. S kemudian meminta kembali uang pembayaran tersebut, namun nilai yang diminta dua kali lipat yakni sebesar Rp 50 juta. “Jika tidak, maka akan dilaporkan kepada aparat. Karena tidak sanggup, akhirnya kasus ini ditangani kejaksaan,” jelas Wirajana.
Kasie Pidana Khusus, Hanung Widyatmoko menambahkan, S memang sudah ditetapkan sebagai tersangka dan akan segera menjalani proses hukum. Namun saat ini yang bersangkutan belum dilakukan penahanan dengan pertimbangan subjektif dan dipandang masih kooperatif.
“Berkasnya segera kita limpahkan ke Pengadilan Tipikor Semarang. Soal ancamannya kelihatannya beda. Kalau Kades kan dia pejabat, sedangkan tersangka penyuapnya (S) ini adalah warga biasa. Juga tidak ada kerugian negaranya, sehingga ancaman hukuman untuk S ini lebih ringan,” tegasnya.

Sumber/Wartawan/Penulis : Wardoyo