Banyak desainer Indonesia yang berlomba-lomba untuk memamerkan karya mereka di pekan mode dunia bergengsi, entah itu di New York, Paris, Milan atau London. Tapi tidak demikian dengan desainer senior Itang Yunasz. Ia fokus memperkenalkan karyanya di negara dengan pasar yang potensial.
Untuk kedua kalinya, Itang akan berpartisipasi di pameran Collection Premier Moscow (CPM) di Moskow, Rusia, pada akhir Agustus mendatang.
Berkonsep B to B, CPM adalah pameran produk fashion berskala global terbesar di kawasan Eropa Timur. Sekitar 1.000 merek fashion dan 22.600 buyers dari 27 negara akan ikut serta di ajang yang digelar dua tahun sekali itu.
Bagi Itang sebagai desainer busana muslim dan modest wear, ambil bagian di CPM menjanjikan prospek bisnis yang menjanjikan. Berkaca dari pengalamannya di CPM tahun lalu, desainer 58 tahun itu melihat pasar Rusia dan negara-negara Eropa Timur yang mayoritas berpenduduk Muslim, seperti Kazakstan dan Uzbekistan, memiliki animo yang besar terhadap produk Indonesia.
Tahun lalu Itang membawa koleksi busana bermotif batik Sawunggaling. Ia kaget dengan respons positif para buyers mengingat tampilan motif yang sangat etnik.
“Kalau mau branding dan cuma dapat tepuk tangan, mending ke New York atau Paris Fashion Week saja. Tapi untuk membangun bisnis, Rusia adalah tempatnya,” kata Itang baru-baru ini saat jumpa pers di jumpa pers di Gedung Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Di CPM edisi ke-29 ini, Itang akan membawa koleksi kolaborasinya dengan Gajah Duduk di bawah label Kabana by Itang Yunasz. Berbekal masukan-masukan dari para buyers, Itang kali ini melakukan banyak penyesuaian. Misal, ia lebih banyak bermain dengan warna-warna datar untuk menyesuaikan musim dingin di sana. “Saya juga banyak menghadirkan busana two-piece dan three-piece, karena itu lebih laku di sana ketimbang one-piece. Outerwear dan busana yang sifatnya bertumpuk juga diperbanyak,” tambah desainer yang telah berkarya di industri mode Tanah Air sejak 20 tahun lalu itu.
Selain Itang, delapan desainer dan label Indonesia turut mengikuti. Mereka adalah Prive by Dian Pelangi, Kasha by Sjully Darsono, Devyros, Ekuator, Warnatasku, Kalyana Indonesia, Huraira, dan Teha Bags. Semua label mewakili kekuatan Indonesia yang bisa menjadi nilai jual tersendiri, yakni modest wear dan keragaman budaya.
Karya mereka akan dipamerkan di area seluas 62 meter persegi dengan tajuk The Heart of Fashion Craft. 

Sumber/Wartawan/Penulis : Detik