Lurik jadi salah satu kekayaan kain Indonesia yang belum banyak terekspos ketimbang batik. Namun keberlangsungan lurik sebagai bagian dari ragam kain Nusantara saat ini perlu mendapat perhatian khusus. Saat ini para perajin lurik didominasi warga berusia senja tanpa ada regenerasi yang baik. Tidak banyak generasi muda yang mau menjadi perajin lurik sehingga gerakan untuk memotivasi mereka melestarikan lurik pun perlu digalakkan.
“Rata-rata perajinnya memang sudah sepuh umurnya usianya 60 tahun ke atas. Yang paling tua usianya sudah 85 tahun,” ujar Afrian Irfani dari Lurik Kurnia, saat konferensi pers di Nomz Kitchen & Pastry, Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta Pusat, Rabu (23/8).
Desainer Edward Hutabarat pun mencoba meningkatkan kesadaran untuk melestarikan lurik di kalangan muda dengan sebuah pameran bertajuk Tangan-tangan Renta Lurik Indonesia. Bekerja sama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation, Edward Hutabarat memperlihatkan keunikan dan pesona lurik lewat bidikan foto, video dan instalasi yang sudah dikerjakannya selama tujuh tahun. Pameran diadakan di sebuah area di Pelataran Ramayana, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat.
Selama enam hari (23 – 28 Agustus 2017), pengunjung bisa menyaksikan pembuatan lurik menggunakan mesin tenun tradisional, modifikasi motif-motif lurik yang dibuat lebih kekinian, foto-foto humanis para perajin lurik hingga instalasi bernilai seni tinggi. Tujuan Edward Hutabarat satu. Membuat lurik lebih dikenal masyarakat luas sehingga jadi “pemeran utama” dalam dunia fashion.
“Lurik siap bersanding dengan brand apapun. Lurik kalau dipadukan dengan brand apapun, brand-nya itu jadi dessert. Luriknya jadi main course,” kata Edward Hutabarat.
Selain menggelar pameran, Edward Hutabarat juga menghadirkan fashion show koleksi busana terbarunya yang semuanya terbuat dari lurik. Di “tangan dingin” Edo, kain lurik disulap menjadi busana kekinian nan indah mulai dari maxi dress, blouse, coat siluet kimono hingga sederetan busana pria dengan siluet longgar nan unik.
Selama pameran berlangsung, pengunjung bisa berbincang langsung dengan Edward Hutabarat dan mendapatkan berbagai informasi seputar lurik. Akan ada juga workshop. Pameran ini bebas untuk kalangan umum. 

Sumber/Wartawan/Penulis : Detik