Selain motif kalpataru, batik tersebut juga dihiasi motif ukel yang sambung-menyambung serta bunga padma.

Batik dari waktu ke waktu makin mendapat hati di masyarakat. Di tangan-tangan kreatif, motif batik terus berkembang. Seperti yang dilakukan oleh desainer kondang asal Sukoharjo, Owens Joe. Karyanya banyak ditunggu, tak hanya masyarakat tapi juga di kalangan desainer sendiri.
Akhir pekan kemarin, dia meluncurkan koleksi terbarunya, Batik Jiwaning Jiwo di event bergengsi Jogja Fashion Week (JFW) 2017. Koleksinya ini banyak membuat mata tamu JFW terpana, dia membawa batik dengan warna yang sangat berani. Yaitu, flamingo red.
Pada pemilihan warna tersebut, terjadi pergulatan di dalam jiwanya. Untuk mendapatkan warna tersebut juga harus ekstra hati-hati dan manual.
“Untuk warna tetap saya pakai indogosol Jerman yang ramah lingkungan. Warna flamingo red ini merupakan pergolakan jiwa. Warna yang sedikit ke merah ini, membuat batik ini bisa dipakai siapa saja, unisex. Baik itu laki-laki atau perempuan,” kata dia kepada Joglosemar, Selasa (29/8).
Disebutkan, proses pembuatan batiknya sendiri cukup lama. “Dari mulai menggali ide, penelitian, pembuatan sketsa, bikin prototype, ke kertas gambar tangan kemudian diaplikasikan ke kain, pewarnaan, mulai November tahun 2016 hingga Juli 2017 baru jadi,” ungkapnya.
Untuk penelitian motif ini, Owens mencarinya ke Candi Prambanan. Setelah berjalan-jalan di candi tersebut, akhirnya dia menemukan sesuatu yang menjadi inspirasi untuk batiknya. Ketua Ikatan Perancang Busana Surakarta (Ikapersata) ini mendapatkan inspirasi dari relief kalpataru di candi tersebut.
“Saya akhirnya memutuskan untuk memilih pohon kalpataru yang ada di sana. Sebenarnya ada dua ekor burung di bawah pohon kalpataru tersebut. Tapi, setelah melalui pergulatan panjang maka akhirnya diputuskan tanpa kehadiran kedua binatang tersebut,” kata dia.
Seperti dari legenda terjadinya Candi Prambanan, mengisahkan cinta Raden Bandung Bondowoso kepada seorang putri, Roro Jonggrang. Kisah ini berakhir dengan dikutuknya sang putri akibat tipu muslihat yang dilakukannya.
“Temanya adalah Jiwaning Jiwo, kembalilah ke dalam jiwa masing-masing yang jujur tanpa tekanan. ‘Kalau tidak suka bilang tidak suka, kalau saja dulu Roro Jonggrang sejak awal menyatakan tidak suka kepada Bandung Bondowoso tentu akhirnya tidak seperti ini. Dia tidak akan dikutuk menjadi patung untuk melengkapi permintaannya kepada Bandung Bondowoso, yaitu seribu candi,” papar dia.
Kalpataru sendiri, tambah Owens, merupakan simbol perdamaian, di dalam jiwa yang hakiki lahirlah jiwa yang abadi. Selain motif kalpataru, batik tersebut juga dihiasi motif ukel yang sambung-menyambung serta bunga padma. Batiknya kali ini diaplikasikan ke dua jenis kain yaitu katun dan sutra troso.

Evening Dress
Sementara itu, dalam event JFW 2017 tersebut, Owens menampilkan delapan evening dress. “Ada delapan busana ready to wear yang agak longgar tapi tetap kelihatan feminin dengan kain yang menjuntai. Ya, modest wear dan cocktail dress,” ungkap lelaki yang sedang mempersiapkan sebuah museum batik di tempat kelahirannya ini.
Sebagaimana biasanya, Owens tak banyak menggunakan tambahan hiasan di koleksinya. Sebab, dia ingin mengangkat batik itu sendiri. Sementara untuk perhiasan yang dipakai oleh model, Owens berkolaborasi dengan desainer perhiasan asal Solo, Sari Tejo. “Biarkan batik yang bercerita sendiri,” ungkap dia.
Seperti koleksinya yang satu ini. Sebuah evening dress two pieces. Untuk atasannya berlengan panjang yang menjuntai di bagian belakang. Owens memadukannya dengan bawahan rok panjang layer-layer perpaduan batik Jiwaning Jiwo dengan Thaisilk. Untuk makin mempermanis penampilannya, ditambah dengan batik Jiwaning Jiwo dengan material sutra troso yang ringan.
Selain itu, ada juga longdress berlengan panjang. Kesan simple namun elegan terlihat dengan tambahan kerah rebah serta dipermanis dengan pita di pinggang. Pemakaian topi kecil dengan warna senada mengingatkan kita pada acara-acara resmi di Kerajaan Inggris. Tampilan yang simple, feminin dan glamor terlihat di karya-karya Owens Joe ini.

Sumber/Wartawan/Penulis : Amrih Rahayu