Seperti tahun-tahun
sebelumnya, tradisi
rayahan Gunungan saat Grebeg Besar untuk
ngalap berkah selalu
ada cerita seru.
Seperti apakah?.

Ratusan warga antusias mengikuti Grebeg Besar yang diselenggarakan Keraton Kasunanan Surakarta dalam memperingati Hari Raya Idul Adha, Sabtu (2/9) atau bertepatan dengan 11 Dzulhijah, sesuai penanggalan Jawa. Grebeg Besar identik dengan mengarak 2 buah Gunungan, yaitu Gunungan Jaler/pria dan Gunungan Estri/wanita. Gunungan yang berisi berbagai macam hasil bumi, baik sayuran seperti cabai, kacang panjang, kentang, dan aneka makanan ini diarak menuju Masjid Agung Surakarta.
Pantauan Joglosemar, Gunungan diarak mulai dari Kori Kamandungan, kemudian menuju Siti Hinggil, lalu ke Alun-alun utara dan masuk Masjid Agung Surakarta.
Kirab diawali prajurit keraton seperti Korps Musik, Bergada Baki, Wiratamtama, Jayengastro, Sorogeni, Doropati,dan  Jayasura menjadi pembuka kirab. Tampak para abdi dalem setia menyertai.
Setelah didoakan di Masjid, Gunungan Jaler kemudian dibawa kembali ke Keraton untuk diperebutkan masyarakat yang berada di Keraton. “Gunungan Jaler langsung bawa ke Keraton!,”teriak salah seorang abdi dalem.
Sedangkan Gunungan Estri siap diperebutkan di halaman keraton atau di depan Kori Kamandungan. Meskipun terik matahari mulai tinggi, tidak menyurutkan semangat masyarakat yang ingin ngalap berkah lewat gunungan tersebut. Semakin meriah ketika wisatawan asing tak mau ketinggalan, berdebar dan menunggu ngerayah gunungan.
Tak peduli tua, muda, lelaki atau perempuan terlihat bekerja keras merayah isi Gunungan. Mereka mempercayai, hasil bumi baik sayuran dan makanan dalam Gunungan itu mengandung berkah karena telah didoakan oleh para ulama.
Sejumlah warga yang berhasil rayahan ingin segera mengolah hasil yang didapat menjadi masakan, seperti yang diungkapkan Dedi.
“Sampai celana saya mlotrok ini mas, tapi saya dapat ini nanti akan dimasak,” ungkap Dedi tampak senyum puas memperlihatkan sejumlah sayuran yang dimilikinya.
Senada, diungkapkan Neneng, ia juga ingin segera mengolah sayur yang didapatnya untuk dimasak.
“Alhamdulillah, dapat. Pingin cepat pulang, buat memasaknya, ”terang Neneng.
Kerabat keraton, KGPH Dipokusumo mengatakan Grebeg Idul Adha atau Grebeg Besar merupakan perwujudan syukur dari Keraton. “Wujud syukur dari Raja, Sentana Dalem, Kawula dan masyarakat pada umumnya,” kata Dipo seusai kirab.
“Grebeg juga sebagai simbolis perayaan kemenangan umat Islam dalam menjalankan ujian seperti meneladani Nabi Ibrahim,” katanya.
Menurutnya, Grebeg juga sebagai tanda kebersamaan antara keraton, ulama, dan masyarakat dalam mensyukuri nikmat Tuhan.

Sumber/Wartawan/Penulis : Rekarinta Vintoko | Tribun Solo