Anak merupakan investasi masa depan yang tak ternilai harganya semua pihak berupaya menjaga mereka dengan tugas dan wewenang masing- masing. Salah satunya dengan memperhatikan kebutuhan nutrisi anak. Gizi yang baik mampu merangsang tumbuh kembang anak dengan optimal.
Instansi pendidikan sebagai lingkungan tempat anak menghabiskan sebagian besar waktunya setelah rumah pun ikut ambil peran dalam menjaga asupan gizi yang dimakan oleh anak didiknya. Beberapa sekolah swasta di Surakarta misalnya sejak awal berdiri berkomitmen untuk menyediakan makan siang bagi anak didiknya. Fasilitas istimewa ini ada yang mereka kelola secara langsung namun ada juga yang menggunakan jasa boga atau katering.
“ Sejak awal yayasan berdiri pada tahun 1997 Al-Firdaus berkomitmen memberikan layanan tambahan yakni makan siang kepada siswa kita ingin agar asupan gizi anak itu terjaga,” ujar Staf Humas Yayasan Al-Firdaus, Ema Yuliani Utami kepada Joglosemar saat ditemui di kantornya.
Wali murid siswa di SD Al- Firdaus sejak awal penerimaan siswa baru sudah mendapatkan sosialisasi terkait program makan siang di sekolah. Biaya makan siang menjadi satu dengan uang SPP yang dibayarkan orangtua ke sekolah.
Tim dapur Al-Firdaus mendapat pendampingan dari Cheff Assalaam Syariah Hotel Solo sehingga kualitas makanan bisa terjaga. “Tim dapur di tempat kami pada dasarnya harus memenuhi kualifikasi dasar seperti keislaman yang baik dan punya pengalaman bekerja di bidang makanan,” imbuhnya.
Pengelola Yayasan Al Firdaus membagi tiap unit tim dapur dari enam hingga delapan orang, khusus di SD Al- Firdaus mereka harus melayani 600 siswa. Selain adanya jaminan mutu kualitas makanan yang disajikan harga satu porsi makan siang di Al- Firdaus terbilang cukup murah jika dibanding harga  katering yakni Rp 5.000 hingga Rp 7.000.
“Meskipun kami menyediakan makan siang kami tetap membuka kantin sekolah dan mini market sebagai tempat anak-anak jajan namun uang jajan dari orangtua memang kami imbau supaya tidak berlebihan,” ungkapnya.
Sementara itu, SD Al-Azhar Syifa Budi sejak awal berdiri pada tahun 2002 memilih menggunakan jasa katering. Hingga saat ini tercatat ada empat katering yang melayani semua keperluan makan di semua jenjang sekolah mulai dari TK hingga SMA.
Pengelolaan katering dan pembayaran sepenuhnya dikelola oleh pihak koperasi sekolah. Setiap tahun ajaran baru pihak koperasi mengeluarkan edaran kepada wali murid untuk memilih katering yang sesuai. Program katering bukanlah sesuatu yang wajib bagi siswa namun yang pasti siswa TK dan SD tidak diperkenankan membawa uang jajan ke sekolah.
“Anak- anak pun kami bebaskan untuk memilih katering pagi atau siang atau ikut pagi dan siang, semuanya makanan berat,” kata Ketua Pengurus Koperasi Sekolah Al- Azhar Syifa Budi, Sunardi.
Berbeda dengan kedua sekolah di atas, SD Marsudirini yang pada tahun ini ditunjuk sebagai sekolah ramah anak oleh Pemkot Surakarta baru akan memulai program tersebut. Salah satu prasyarat yang harus dipenuhi oleh pihak sekolah adalah memiliki program katering sekolah sebagai jaminan asupan gizi anak-anak didiknya.
Ketua Komite Sekolah SD Marsudirini, Maria Irena Herdiyanti menjelaskan jika program katering direncanakan mulai aktif pada 11 September 2017 ini pun sudah disosialisasikan kepada tujuh pengusaha katering yang nantinya akan melayani 750 siswa SD di SD Marsudirini. “Mereka kita koordinasi dan kita arahkan agar mengikuti standar- standar yang sudah kita tetapkan salah satunya tidak memakai MSG,” ungkapnya.
Salah satu pengusaha katering yang cukup berpengalaman puluhan tahun, Nunuk Irawati pemilik katering Selera yang melayani SD Al-Azhar Syifa Budi dan kini melayani SD Marsudirini ini pun berupaya menjaga kualitas kateringnya semaksimal mungkin.
“Saya selama ini selalu mengantar makanan langsung ke sekolah, sambil melihat respons anak-anak soal masakan saya atau ngobrol langsung dengan mereka besok mau makan apa?” Kata  Nunuk.
Sementara itu Nurul Faizah pemilik katering Nurul Catering mengaku baru bergabung mengelola katering sekolah pada pertengahan 2015. Selama hampir dua tahun mengelola katering pihaknya belum pernah menerima komplain. Pasalnya dia menjamin langsung masakanya dengan mengolah makanan sendiri.
Variasi menu pun mengikuti tren yang sedang ramai diminati anak- anak yang diperolehnya dari belanja, bertanya dengan chef di salah satu hotel ternama di Kota Solo, ngobrol dengan anak- anak yang menjadi pelanggan dan mencari menu terbaru di internet.
Sejumlah wali murid pun merasa terbantu dengan program katering sekolah. Salah satunya Widi Andari (45) wali murid SD Al-Azhar Syifa Budi yang mengikuti program katering untuk kedua anaknya.
Berbeda dengan Widi, Winarsih (63) memilih tidak mengikuti program katering dikarenakan kedua cucunya yang duduk di kelas satu dan empat SD Al-Azhar Syifa Budi cenderung susah makan. Menu makanan yang diminati berupa makanan siap saji seperti sosis belum lagi kebiasaan tidak makan sayur membuat kedua cucunya memilih membawa bekal dari rumah.

Sumber/Wartawan/Penulis : Kukuh Subekti