Bagi desainer mode Hian Tjen, inspirasi bisa datang kapan dan di mana saja. Terinspirasi oleh kemegahan Milky Way atau Galaksi Bima Sakti, Hian Tjen mempersembahkan koleksi couture 2017-2018 bertajuk ‘Magellani’ di Raffles Hotel, Jakarta, Rabu (6/9/2017) malam.  Semuanya bermula ketika desainer 32 tahun itu berpelesir ke Maroko tahun lalu. Saat menginap di tengah padang gurun, Hian sempat terbangun sebelum fajar menyambut lalu menengadah ke langit.
Dengan bantuan teleskop, ia menyaksikan Galaksi Bima Sakti yang gugusan bintangnya seolah berbaris menuju arah selatan. Eksotisme dan kemegahan sang galaksi menggugah rasa takjub di benak Hian.
Tak hanya paras Bima Sakti, Hian juga terkagum oleh kisah romantis yang terselinap di baliknya. Para ilmuwan berpendapat jalur bintang itu merupakan penuntun kawanan burung saat bermigrasi di musim dingin dari utara untuk mencari tempat yang hangat di selatan. Namun menurut legenda rakyat Estonia, para burung itu dipimpin oleh jejak air mata dewi Lindu, seorang mahadewi yang sedih karena cintanya pada Cahaya Utara tak terbalaskan.  “Begitu terpananya saya, saya pun ingin suatu saat nanti membuat koleksi dengan inspirasi Milky Way,” kata Hian sebelum fashion show.
Magellani dipilih Hian sebagai tajuk karena merupakan nama dari salah satu galaksi kecil di tengah luasnya Bima Sakti.  Inspirasi itu Hian tuangkan ke dalam 59 set busana yang didominasi oleh gaun-gaun transparan dengan permainan motif-motif alam seperti rasi bintang, awan, dan lambang astrologi, di atasnya. Sangat dramatis, romantis, dan menciptakan nuansa gaib.
Desainer anggota Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) memasang secara halus satu per satu detail-detail embellishment berupa kristal Swarovski serta bulu-buluan. Menariknya, Hian menggandeng seorang ilustrator asal Bali bernama Ian Permana untuk membantu menuangkan inspirasinya ke dalam motif-motif yang dia inginkan.
Motif tersebut lalu dicetak dengan teknik digital printing di atas kain sutra. Untuk hasil yang lebih maksimal, proses pencetakan harus dilakukan di Italia. “Kalau cetak di Indonesia, hasilnya sangat jauh dari kualitas yang diinginkan. Mungkin karena teknologi di sini belum memadai,” ujar Hian. 

Sumber/Wartawan/Penulis : Detik