Acara Kenduri Ageng digelar sebagai wujudkepedulian terhadap kebudayaan. Selain itu juga bisa memperkuat rasa persatuan dan kesatuan warga Banjarsari.

Taufieq Renaldi A

Alunan gamelan yang dibawakan para karawitan cilik dari kelurahan Manahan menghadirkan nuansa lain di Monumen Juang 45 Banjarsari, Sabtu (9/9). Ditambah rasa tradisional dari hiasan bambu di sekitar panggung, acara Kenduri Ageng menjadi wujuh rasa syukur dan kepedulian terhadap kebudayaan oleh warga Banjarsari.
Acara dimulai sekitar pukul 15.00 WIB. Dibuka alunan gamelan, berikutnya seni tari, reog dan karawitan memeriahkan acara ini. Selain deretan kesenian yang ditampilkan, terdapat pula beberapa stand yang memamerkan produk kerajinan dan makanan buatan warga Banjarsari.
Yang menarik adalah keberadaan 146 tumpeng di sekitar panggung utama. Tumpeng-tumpeng itu berasal dari 13 kelurahan di wilayah Banjarsari. Lewat acara ini, warga Banjarsari membuktikan kepedulian terhadap budaya. Selain itu, acara ini sebagai wujud menjaga rasa persatuan dan kesatuan. Dan juga sebagai ucap syukur kepada Tuhan atas prestasi yang telah dicapai warga Banjarsari.
“Harapannya dapat memperkuat rasa persatuan dan kesatuan segenap elemen masyarakat Banjarsari, karena kenduri biasanya tidak membedakan suku, agama ras dan lainnya. Kemudian lewat kenduri Ageng ini banyak potensi Kebudayaan dari 13 Kelurahan yang ada di Kecamatan Banjarsari,” kata Camat Banjarsari, Indradi, Sabtu (9/9).
Warga Banjarsari begitu antusias mengikuti acara ini. 146 tumpeng yang tersedia ludes, dinikmati bersama para warga yang datang. Salah seorang warga, Triyanto dari Manahan mengaku senang dengan acara ini. Ia pun berharap kedepan pemerintah lebih mengembangkan lagi seni budaya masyarakat di Banjarsari.
“Acara ini sangat bagus untuk menggugah gairah masyarakat, terutama di Banjarsari untuk memajukan kesenian. Harapannya pemerintah juga men-support dengan maksimal,” pungkasnya.

Sumber/Wartawan/Penulis :