Lukisan tersebut dia berikan ruang khusus di bagian belakang outer, atau sisi depan dengan gambar wajah seorang gadis berkimono.

Kain tradisional khas Indonesia semakin diminati oleh para desainer. Mereka mengerahkan kemampuan hingga membuat kain tersebut menjadi karya yang lebih cantik dan enak dipandang.
Seperti desainer Uzy Fauziah yang makin mantap mendesain koleksinya dari kain goyor. Karya terbarunya dia pamerkan di Jogja Fashion Week (JFW) 2017 yang bertempat di Jogja Expo Center pada akhir Agustus lalu. Pada kesempatan tersebut dia membawa 8 karyanya untuk ditampilkan dalam panggung catwalk.
Desainer asal Solo ini mengambil tema Selaras sebagai tema karyanya. “Saya ambil tema Selaras sebagai tema karya, sementara konsep pakaian lebih ke ready to wear yang mengambil tema kasual etnik,” ujar Uzy saat ditemui Joglosemar di butik miliknya di Jalan Sidoluhur No 45 Laweyan, Kamis (7/9).
Pemilihan model ready to wear membuat karya Uzy ini bisa dikenakan oleh berbagai kalangan untuk berbagai acara utamanya acara santai. Dress lengan panjang berbahan dasar kain goyor dan katun lurik ini membuatnya tampak luwes dikenakan di siang dan malam hari. Goyor warna merah sebagai warna dominan dengan disertai goyor motif biru biru abu- abu berhasil dipadu padankan dengan sangat manis.
Uzy mengakui pemecahan pola menjadi hal yang paling sulit selama pengerjaan outfit kali ini, beberapa karya sempat dilakukan perubahan pola. Memadu padankan warna merah polos goyor lurik dom kecer , dan lurik merah biru serta kain perca goyor misalnya.
Namun begitu dia pun mengaku cukup puas dengan hasil karya kali ini karena berhasil memantapkan karakternya sebagai desainer kain goyor. “Bahan goyor aslinya bahan sarung tapi ternyata menarik juga untuk dibuat baju dan ini jarang dipakai oleh desainer lain,” tuturnya.

Lukisan Gaya Jepang
Delapan karya Uzy kali ini terbagi dalam beberapa potongan mulai dari dress, outer dan rok. Khusus celana, diakuinya merupakan koleksi lama yang dia coba desain ulang dengan tetap mempertahankan pola dasar.
Celana yang berbahan dasar denim  warna abu-abu dengan kain lurik berbahan katun. Pemakaian celana ini selanjutnya dipadupadankan dengan outer kombinasi goyor merah polos, goyor motif dan perca goyor di bagian atas, terutama bagian dada, kerah dan lengan.
Pada edisi kasual etnik ini kesan etnik semakin menampakkan karakternya dengan keberadaan goyor lukis Nasrafa milik Yani Mardiyanto. Sebagai pencinta karakter Jepang, Uzy menampilkannya dalam bentuk lukisan di edisi kali ini. Jika sebelumnya dia menampilkan gaya Jepang lewat hiasan kepala dan desain kimono pada detil busananya. Lukisan tersebut dia berikan ruang khusus di bagian belakang outer, atau sisi depan dengan gambar wajah seorang gadis berkimono, kuil Jepang dan bunga sakura.
“Untuk mempermanis saya tambahkan kalung buatan saya yang terbuat dari perca kulit domba, kristal di tambah hiasan burung yang saya tempel di atas kayu yang diikat dengan benang,” katanya.
Uzy mengungkapkan jika hasil karyanya terinspirasi ini dalam rangka membuat fashion sebagai bahasa persahabatan. Pasalnya, khusus edisi kali ini dia melibatkan dua orang untuk menampilkan busana ready to wear yang manis dan nyaman dikenakan misal lukisan dan kain goyor perca yang tidak dikerjakannya sendiri.
Kombinasi serta kolaborasi yang selaras inilah yang membuat busana miliknya menjadi fashion yang suistainable di tahun 2017.

Sumber/Wartawan/Penulis : Kukuh Subekti