BALAIKOTA—Walikota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo mengkritisi kebijakan Pemerintah Pusat yang membuka penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Pasalnya sampai saat ini nasib tenaga honorer kategori II (K2) belum jelast.
“Tenaga K2 di Indonesia itu belum jelas, jumlahnya itu ada ribuan. Tapi kenapa Pemerintah Pusat mengalokasikan anggaran untuk penerimaan CPNS,” terang Walikota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo kepada wartawan, Selasa (12/9).
Jumlah tenaga K2 di Indonesia itu cukup banyak, di Solo sendiri akan sekitar 509 orang. Mereka sudah bekerja belasan sampai puluhan tahun dan perlu mendapatkan kesejahteraan yang layak.  Harusnya itu menjadi perhatian pemerintah pusat dengan mengangkat mereka menjadi PNS tanpa tes. Sejak tes CPNS terakhir tahun 2015 lalu sampai sekarang belum pernah ada informasi soal pengangkatan honorer K2. “Kita sudah mendesak pemerintah pusat untuk menyelesaikan honorer K2. Apalagi metode perekrutannya tidak sesuai dan merugikan daerah,” paparan.
Di Pemkot Surakarta sendiri pada awal pekan ini mendapatkan tambahan dua tenaga penyuluh pertanian hasil dari seleksi di pemerintah pusat.  Padahal yang dibutuhkan Pemkot banyak, untuk sejumlah formasi. “Kalau pegawai yang ditempatkan di suatu daerah bukan asli daerah maka bisa pindah beberapa tahun mendatang ke daerah asal. Itu sama saja tidak akan menyelesaikan masalah soal kekurangan pegawai di daerah, Solo sendiri sekarang kekurangan pegawai,” katanya.
Sementara itu Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Surakarta, Rakhmat Sutomo mengatakan Solo kekurangan sekitar 2.000 pegawai. Karena tiap tahun ada pegawai yang pensiun. “Kita sudah mengajukan sekitar 600 aparatur sipil negara (ASN) ke Kementerian Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN RB) pada tahun ini. Tapi permohonan itu belum ada keputusan,” imbuhnya.
Ditambahkan, terakhir Pemkot membuka pendaftaran CPNS itu tahun 2014 lalu. Tapi setelah itu tidak bisa, karena ada moratorium dari pemerintah pusat dan sampai sekarang kebijakan itu belum dicabut.

Sumber/Wartawan/Penulis : Ari Welianto