Perjuangan warga Wonogiri menghadapi kekeringan dan bencana air bersih berliku dan panjang. Seperti apakah itu?.

Aris Arianto

Terik mentari sama sekali tidak menyurutkan langkah dua orang ibu, Selasa (12/9) siang itu. Jalanan cor beton yang panas mereka lalui tanpa beban sambil membawa masing-masing dua ember besar.
Malah, sesekali canda disertai tawa renyah keluar dari mulut ibu-ibu itu. Saling menyapa dan berbagi senyuman juga mereka lakukan ketika berpapasan dengan warga lainnya. Sangat khas suasana keakraban dan keramahan warga desa di Wonogiri.
Langkah kaki kedua ibu itu berhenti tepat di pinggir sebuah telaga yang hampir mengering. Telaga itu pun tidak begitu luas, tidak sampai ukuran satu hektare. Ember yang ternyata berisi pakaian kotor mereka letakkan di bibir telaga. Tanpa menunggu waktu lama, tangan cekatan mereka segera mencuci pakaian di pinggir telaga tersebut.
“Jarak rumah saya sampai ke telaga ini sekitar delapan kilometer lebih. Setiap hari saya bolak balik dua kali, jadi sekali datang dan pulang bisa menempuh jarak 16 kilometer,” ungkap, Sutini, salah satu ibu tersebut.
Jarak sejauh itu dia tempuh untuk mencapai sumber air bersih yang tersisa di desanya, Telaga Waru, Desa Johunut Kecamatan Paranggupito. Saat pagi dia pergi ke telaga mengambil air bersih untuk masak dan minum keluarganya. Ketika siang giliran dia datang mencuci pakaian kotor.
Ibu lainnya, Boinem mengaku menempuh jarak belasan kilometer sudah merupakan hal yang biasa. Bahkan sebagian besar kaum perempuan di desanya melakukan hal serupa. Sudah merupakan rutinitas sehingga dijalani tanpa mengeluh.
“Kalau ada uang dan telaga sudah kering betul, ya beli dari mobil tangki,” ujar dia sambil tersenyum.
Menurut dia, warga harus berhemat mengingat ketersediaan air telaga semakin menipis. Saat ini telaga masih digunakan untuk mandi, mencuci, dan memasak. Namun diperkirakan ketersediaan air hanya bertahan tidak sampai satu bulan ke depan.
“Sumber air yang masih ada tinggal di sini. Ya harus berhemat, memakai air mesti dibatasi sendiri. Apalagi warga yang menggantungkan air dari telaga sangat banyak,” tutur dia
Sekretaris Kecamatan Paranggupito, Teguh mengatakan ada 26 buah telaga di wilayahnya. Hampir semuanya kini dalam kondisi mengering. Hanya tersisa beberapa yang masih terdapat air, itupun dalam jumlah sangat terbatas.
“Warga memang harus terpaksa membeli air bersih. Tapi hanya warga yang belum terjangkau jaringan pipa air PDAM maupun Pamsimas,” kata Teguh.
Kondisi tersebut terjadi di sedikitnya lima desa. Meliputi Desa Gendayakan, Ketos, Gunturharjo, Songbledek, dan Gudangharjo. Di desa-desa itu rata-rata harga air bersih mencapai Rp 120.000 untuk satu tangki ukuran 6000 liter.
“Harga air tergantung jaraknya, semakin jauh juga semakin mahal. Yang jelas (harga) sudah naik,” sebut dia.
Informasi dari Bagian Humas Pemkab Wonogiri, secara keseluruhan wilayah kekeringan dan krisis air bersih mencakup delapan kecamatan. Meliputi Kecamatan Pracimantoro (9 desa), Paranggupito (8 desa), Giritontro (5 desa), Nguntoronadi (5 desa), Giriwoyo (4 desa), Eromoko (4 desa), Manyaran (2 desa) dan Selogiri (1 desa). Jumlah warga yang bermukim di wilayah kekeringan mencapai 61.169 jiwa.

Sumber/Wartawan/Penulis :