SRAGEN—Kalangan petani dan kelompok tani (Poktan) yang tergabung dalam Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen mengaku resah dengan wacana sekelompok pihak yang menghendaki PT Sakti di Duyungan, Sidoharjo menghentikan pembelian gabah petani. Pelarangan itu dinilai akan merugikan petani atau Poktan yang selama ini sudah bermitra dengan perusahaan besar anak dari PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) tersebut.
Ketua KTNA Sragen, Suratno mengungkapkan, mewakili petani dan Poktan di KTNA, pihaknya meminta agar larangan pembelian gabah oleh PT Sakti dikaji ulang. Pasalnya, selama ini ada beberapa kelompok tani yang sudah bermitra dan menjual gabahnya ke PT Sakti dengan harga yang memang di atas harga pembelian pemerintah (HPP).
Jika sampai dilarang, maka hal itu sama halnya akan merugikan petani secara tidak langsung. Padahal, jika mengandalkan pembelian HPP dari Bulog, petani akan merugi mengingat HPP kadang jauh di bawah harga pasaran. Terlebih pada musim tanam (MT) III di kemarau seperti saat ini, biaya produksi untuk pengairan sudah sangat tinggi.
“Terus terang kami resah. Karena ada desakan kalau PT Sakti dilarang beli gabah petani. Lha padahal selama ini PT Sakti itu sudah banyak membantu membeli gabah petani dengan harga sedikit lebih tinggi dari pasaran. Kalau begitu kan petani sebenarnya diuntungkan, apalagi dengan biaya MT III yang sangat tinggi seperti ini,” ungkapnya, Rabu (13/9).
Suratno menguraikan, dengan dibeli PT Sakti sebenarnya justru bisa memangkas mata rantai tengkulak dan pengepul, serta menaikkan kesejahteraan petani. Atas keresahan itu, pihaknya berencana menghadap bupati untuk menyuarakan aspirasi tersebut.
Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sragen, Muh Djazairi mengakui memang ada sekelompok pengusaha penggilingan padi di Sragen yang sempat meminta agar PT Sakti tidak diperbolehkan membeli gabah dari petani. Namun desakan itu baru sebatas notulen dalam sebuah rapat.
Di sisi lain, jika desakan itu diberlakukan maka akan berdampak pada petani dan Poktan, termasuk KTNA yang selama ini menjual ke PT Sakti. Ia menyampaikan, saat ini pun PT Sakti memang sudah menghentikan pembelian gabah dan hanya konsentrasi memproses stok yang ada. Sehingga keresahan KTNA dan persoalan itu akan diupayakan untuk segera diselesaikan tanpa harus ada riak yang bisa berimbas negatif terhadap iklim usaha perberasan di Sragen.

Sumber/Wartawan/Penulis : Wardoyo