Usia muda, terlihat bugar, serta rajin berolahraga, tidak menutup kemungkinan untuk mendapatkan serangan jantung. Mereka yang memiliki pola hidup sehat, turut berisiko mengalami masalah pada jantung tersebut.
Tidak sedikit mereka yang berusia muda diintai oleh gangguan jantung. Bahkan, bahaya serangan jantung sudah mulai meningkat angkanya di kalangan muda. Hal tersebut meski didominasi gaya hidup buruk, turut dipengaruhi oleh penyebab lain.
“Meski gaya hidup sudah sehat, tetap harus banyak bergerak secara rutin. Selain itu, serangan jantung juga memiliki penyakit yang multi faktor yang hadir di usia muda,” ujar dokter spesialis jantung, dr Jetty R Sedyawan Sp JP(K) di kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (14/9), seperti dikutip di Viva.
Selain penyakit-penyakit komplikasi, faktor keturunan sangat berperan besar. Dengan adanya faktor genetik dari keluarga, tubuh individu tidak bisa lepas dari risiko terserang gangguan jantung.
“Adanya faktor keluarga seperti kolesterol tinggi, tentu akan sulit dibatasi, meski gaya hidup orang itu sudah bagus. Dia yang memiliki faktor genetik, mau minum kafein hanya sedikit, bakal tetap meningkatkan kolesterolnya,” kata dr Jetty.
Selain itu, berolahraga berlebihan ternyata memicu serangan jantung secara mendadak. Untuk itu, dr Jetty menyarankan agar beraktivitas dan berolahraga sewajarnya saja. “Kadang ada yang enggak sadar kalau dia sudah olahraga berlebihan, jadinya tiba-tiba ada serangan jantung. Atau, saat sedang aktivitas lain dan adrenalinnya terpacu kencang, serangan jantung bisa menyerang,” paparnya.
Berlari biasanya menjadi jenis olahraga yang paling digemari oleh masyarakat. Tetapi, olahraga tersebut memiliki aturan yang harus diikuti dan tidak bisa disepelekan. Saat berolahraga, salah satunya lari, sebaiknya melakukan persiapan medis yang tepat sebelum mulai.
“Amannya, cek nadinya berapa, irama jantungnya normal atau tidak, tensinya berapa, kadar kolesterol berapa. Kita jangan sampai high impact, takutnya berlebihan tekanan ke jantung,” ujar dr Jetty.
Selain itu, ia menekankan durasi olahraga lari yang dilakukan tidak boleh berlebihan. Angka durasi lari maksimal hanya 60 menit. “Maksimal olahraga lari untuk orang awam adalah 60 menit. Lebih dari itu, risiko cedera meningkat,” kata dr Jetty.
Ia mengatakan, olahraga lari juga sebaiknya rutin dilakukan dalam satu minggu. Olahraga tersebut juga sebaiknya diiringi dengan pemanasan terlebih dahulu. “Sebaiknya dilakukan selama empat kali seminggu dan setengah jamnya dilakukan untuk pemanasan dulu,” paparnya.

Sumber/Wartawan/Penulis : Widi Purwanto