Baterai ini memiliki keunggulan dalam hal kekuatan memasok arus secara kontinyu dan tingkat keamanan yang tinggi

SOLO—Dalam waktu dekat, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta siap mengomersialkan baterai lithium yang dikembangkan oleh peneliti dari tim Fakultas Teknik (FT) kampus setempat. Baterai yang diberi nama SMARTUNS-Baterai Lithium ini dikembangkan dengan teknologi nano yang dapat meningkatkan densitas energinya. Dibanding baterai sejenis yang ada di pasaran saat ini, baterai ini memiliki keunggulan dalam hal kekuatan memasok arus secara kontinyu dan tingkat keamanan yang tinggi. Selain itu baterai ini memiliki umur pemakaian yang panjang yaitu mencapai 3000 siklus pengisian. Siklus ini jauh lebih lama dibanding produk komersil saat ini yang hanya sekitar 500 siklus.
Kepala Badan Pengelola Usaha (BPU) UNS Dr Eddy Triharyanto kepada wartawan di sela kegiatan Lokakarya Spin Off Pemasaran Produk Hasil Penelitian pada Dunia Industri yang digelar di Best Western Premiere Hotel, Kamis (14/9) mengatakan, UNS menargetkan baterai tersebut diproduksi besar-besaran dan mendominasi pasar lokal pada tahun 2018 mendatang.
‘’Baterai lithium saat ini sedang kami inkubasi agar tahun depan bisa dikomersialkan,’’ terang Eddy.
Lanjut Eddy, baterai lithium yang dikembangkan ini memiliki ukuran 18650, angka tersebut menjelaskan diameter 18 milimeter, tinggi 65 milimeter, dan angka 0 menunjukkan bentuk silinder. Prototipe yang telah dibuat masih terus dikembangkan dalam bentuk battery pack dengan tujuan dapat diaplikasikan pada sepeda listrik dan mobil listrik. “Baterai lithium ini berbasis material katoda LiFePO4. Hasil penelitian yang dikembangkan oleh tim dari FT UNS ini mampu mengatasi permasalahan yang ada pada teknologi baterai lithium,” imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Eddy juga menegaskan bahwa para dosen di perguruan tinggi utamanya UNS harus mulai mengubah pola pikir terkait hasil riset mereka. Selama ini, mereka melakukan riset sekadar untuk memenuhi kewajiban atau untuk tuntutan jurnal internasional. Namun sekarang paradigma tersebut harus diubah bahwasanya riset harus bisa dihilirisasi dan bermanfaat untuk masyarakat.
Sedangkan pembicara lain Kepala Pelatihan dan Personal Badan Standarisasi Nasional (BSN), Donny Purnomo Januardhi Effyandono menambahkan, dalam melakukan standarisasi produk-produk Usaha Kecil Menengah (UKM) akan lebih intensif jika melibatkan Perguruan Tinggi (PT). Sehingga pihaknya sudah menggandeng 30 PT di Indonesia untuk lebih memasifkan standarisasi produk UKM.
“ Saat ini kendala dari UKM untuk bisa masuk ke pasar yang besar adalah belum terstandarisasinya produk UKM. Padahal UKM di Indonesia banyak yang berpotensi untuk masuk ke pasar internasional,” ujar Donny.


Sumber/Wartawan/Penulis : Dwi Hastuti