Prestasi anak bangsa siap ditorehkan kembali. Kali ini salah satunya lewat laga mobil formula di Jepang. Bagaimana persiapannya?.

Dwi Hastuti

Impian sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang tergabung dalam Tim Bengawan Formula Student Automotive Engineering (FSAE) UNS untuk berlaga di sirkuit Shizuoka Ecopa Stadium, Jepang akhirnya terkabul. Pasalnya saat berlaga dalam Student Formula Japan (SFJ) 2017, Tim Bengawan FSAE UNS dengan mobil Astaka-nya bisa meraih poin yang harus dipenuhi di ajang tersebut.
Salah satu anggota Tim Bengawan FSAE UNS, Bhre Wangsa Lenggana mengatakan, tahun ini merupakan tahun kedua Tim Bengawan UNS ikut dalam SFJ. Hanya saja, untuk tahun lalu tim dari UNS tak bisa berlaga lantaran belum mampu melewati poin yang telah ditentukan.
Sehingga untuk ke depannya, tim dari UNS terus melakukan perbaikan hingga akhirnya bisa menciptakan mobil balap Astaka. Untuk tahun ini Tim Bengawan membuat beberapa inovasi pada mobil formula Astaka. Di antaranya penambahan sayap di bagian depan dan belakang serta meningkatkan performa mobil. Bagian muka juga ditambahkan katup untuk pengaturan angin.
‘’Ada beberapa yang menjadi fokus penilaian di antaranya biaya, performa desain, akselerasi ketahanan, efisiensi bahan bakar,” ujar Bhre, Kamis (14/9).
Lanjut Bhre, meski belum bisa memperoleh penghargaan, namun bisa berlaga dalam sirkuit SFJ 2017 merupakan hal yang sudah membanggakan. Tim yang berisi 12 mahasiswa dan dibimbing oleh tiga dosen ini sudah berusaha semaksimal mungkin hingga akhirnya bisa berlaga dalam sirkuit.
Bhre menceritakan, untuk lolos dalam ajang SFJ 2017 harus melewati berbagai tahapan. Persiapan untuk mengikuti SFJ 2017 yang digelar pada 4-9 September di Jepang kemarin ini sudah disiapkan sejak Januari lalu. “Pembuatan dan perakitan sudah kita mulai dari bulan Januari hingga Agustus kemarin. Kemudian kami kirim persyaratan untuk mengikuti SFJ 2017 yang meliputi spesifikasi mobil, video kelayakan mobil serta dokumen lainnya. Dan mobil Astaka kami dinyatakan lolos mengikuti SFJ 2017,” imbuhnya.
Bhre menambahkan, untuk perakitan mobil Astaka tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit yaitu Rp 120an juta. Dana tersebut berasal dari Kemenristekdikti, universitas, sponsor dan UNS Global Challenge.
Sementara itu, Dekan FT UNS, Dr Sholichin MT menambahkan, kali ini merupakan tahun kedua UNS mengikuti kompetisi mendesain dan merancang mobil formula yang diikuti berbagai negara di Asia. ‘’UNS merupakan salah satu wakil dari Indonesia,’’ kata Sholichin.
SFJ merupakan event tahunan yang diadakan oleh Japan Society of Automotive Engineering (JSAE). Event bergengsi ini ditunggu-tunggu oleh mahasiswa pecinta otomotif.  Sholichin mengemukakan, SFJ memiliki beberapa sub-event yang harus dilewati oleh masing-masing peserta seperti halnya design report, cost report, dan business plan pada static event, serta skid pad, acceleration, autocross, endurance, and efficiency. Masing-masing sub-event memiliki poin-poin tertentu yang dijumlah menjadi poin akhir. Persaingan tim sangat ketat karena aturannya juga dibuat rumit.
“Saya sangat mengapresiasi apa yang telah diperoleh oleh mahasiswa tersebut. Tim dari UNS ini mengalami kemajuan yang pesat  dibanding tahun lalu,” katanya.

Sumber/Wartawan/Penulis :