Malam pembukaan Festival Payung Indonesia (FPI) ke-4 di Pendapa Pura Mangkunegaran, Solo, Jumat (15/9) malam, berlangsung sangat meriah. Ribuan pengunjung baik dari Solo maupun luar kota turut memadati event tahunan tersebut. Ratusan payung menjadi pusat perhatian pengunjung pada malam pembukaan FPI itu. Tak sedikit dari mereka yang ber-selfie untuk mengabadikan momen tersebut.
Pantauan di lokasi, terlihat setiap sudut Pura Mangkunegaran dihiasi dengan payung-payung hasil kreasi para seniman se-Indonesia. Jumlah payung yang dipajang mencapai 500 buah. Sedikitnya ada 127 payung rajut dari berbagai wilayah Indonesia yang dipamerkan. Ditambah dengan payung lukis yang melibatkan 29 pelukis Nusantara dan puluhan pameran payung tradisi dari Thailand, Kendal, Klaten, Tasikmalaya, Malang, Sawahlunto, Gianyar, Banyumas, dan Kepulauan Riau.
Pembukaan FPI ditandai dengan pembukaan payung oleh Gusti Putri Mangkunegara IX, Kepala Dinas Pariwisata Kota Surakarta Basuki Anggoro Hexa, inisiator FPI Heru Mataya, dan Deputi Bidang Pengembangan Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata RI Esthy Reko Astuti di Pendapa Pura Mangkun garan.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pariwisata Kota Surakarta, Basuki Anggoro Hexa mengatakan, selama satu tahun Pemkot memiliki 52 kalender event yang salah satunya FPI. “Mulai tadi pukul 18.30 WIB (tadi malam) masyarakat sudah mulai memadati Pura Mangkunegaran untuk menyaksikan FPI. Ini membuktikan gelaran FPI ini diminati banyak orang,” ujar Basuki.
Dan gelaran event FPI ini juga mampu menggerakkan perekonomian di Kota Solo. Misalnya tingkat okupasi hotel naik, pedagang kuliner laris, petugas parkir sibuk, dan masih banyak yang lainnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata RI, Esthy Reko Astuti mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi Kota Solo yang telah menggelar secara rutin FPI. Dengan tema Sepayung Indonesia, berarti keberagaman suku dan kekayaan yang dimiliki bisa memperindah Indonesia.
Esthi berharap ke depan event ini bisa lebih baik lagi, bahkan tak hanya pada skala nasional melainkan bisa internasional. “Dan semoga adanya FPI ini bisa memberikan manfaat untuk masyarakat Solo,” katanya.
Inisiator FPI, Heru Mataya menambahkan, acara FPI merupakan kesempatan yang luar biasa karena Mangkunegaran bisa digunakan sebagai lokasi acara. Pada FPI ini akan mengantarkan penonton pada jejak sejarah payung Nusantara melalui pameran dan workshop. Juga disuguhkan foto-foto payung relief candi zaman klasik, foto digital imaging, serta payung Nusantara tempo dulu dari Museum Tropen, Amsterdam, Belanda.
Pada hari kedua, FPI bakal dimeriahkan dengan umbrella fashion show karya Dian asal Jakarta, Maharani Setyawan asal Klaten, Ofie Laim dari Bandung, dan Rory Wardana asal Solo. Keempat desainer tersebut tampil pada Sabtu (16/9) bersama maskot FPI 2017.
Hari terakhir, Heru bakal memberikan suguhan tari spesial dengan mengundang enam maestro tari Indonesia. Mereka adalah Dariah asal Banyumas, Ayu Bulantrisna Djelantik dari Bali, Rusini dari Solo, Retno Maruti dari Jakarta, Didik Nini Thowok dari Yogyakarta, dan Munasiah Daeng Jinne dari Makassar. Mereka akan menutup panggung FPI dengan tarian eksploratif. “Beberapa ya menari langsung. Ada juga yang akan menarikan karya lama mereka. Ini suguhan spesial dari kami karena mempertemukan para maestro tari,” katanya.

Sumber/Wartawan/Penulis : Dwi Hastuti | Rakarinta Vintoko