Erni Saraswati, tenaga kerja wanita (TKW) asal Sragen, jauh-jauh memesan kain batik dari tanah kelahirannya demi bisa ditampilkan di ajang peragaan busana
di Hongkong. Bagaimana kisahnya?

 

Nama Erni Saraswati memang masih jarang terdengar. Namun di kalangan TKW yang bekerja di Hongkong, namanya barangkali tak asing lagi. Ya,TKW berparas cantik berusia 35 tahun asal Kampung Sragen Lor RT 1/9, Nglorog, Sragen itu memang cukup dikenal di Hongkong lantaran selain menjalani profesi sebagai TKW, dia juga kerap tampil di ajang peragaan busana atau fashion show.
Berbagai penghargaan sudah dia raih dari hobinya menjadi model di negara tempatnya bekerja. Salah satunya ketika tampil di ajang Fashion Shhow khusus TKW yang digelar di Sayingpun Community di Hongkong pada akhir pekan lalu, Minggu (10/9).
Dalam peragaan busana yang diselenggarakan oleh Sandra Fashion Hongkong itu, dikhususkan bagi para TKW yang bekerja di negara tersebut. Total ada sekitar 50 peserta dari komunitas TKW yang
berasal dari berbagai negara.
Kepada Joglosemar, Jumat (15/9), perempuan bernama asli Erni Susilowati itu mengakui saat tampil di ajang itu, ia secara khusus merancang dan membuat busana bertemakan batik asli Masaran. Bahan batiknya sengaja ia pesan dan dikirim oleh temannya dari Masaran, Sragen.
“Saya pakai Batik Kebaya dengan tema Ratu Batik Kebaya Glamor. Saya buat sendiri, batiknya dibelikan dari Batik Harjono Masaran dikirim teman saya dari Sragen,” paparnya lewat sambungan telepon.
Wanita yang sudah lima tahun bekerja sebagai TKW rumah tangga itu menuturkan pada akhirnya memang gagal mendapatkan juara. Akan tetapi ia merasa bangga bisa menampilkan busana batik asli dari tanah kelahirannya, Sragen ke masyarakat di Hongkong.
Ia mengakui saat tampil di ajang itu, busana rancangannya memang sedikit kebesaran. Hal itulah yang mungkin mempengaruhi penampilannya. Kendati begitu, ia mengaku tetap bangga bisa mengenalkan budaya batik Sragen ke mancanegara.
“Bangga juga bisa menampilkan batik asli Masaran, Sragen ke masyarakat di Hongkong. Saya memang pingin Batik Sragen dikenal masyarakat luas dan dunia Mas,” jelasnya.
Erni menambahkan selama hampir lima tahun lebih bekerja sebagai TKW di Hongkong, dirinya memang aktif mengikuti kegiatan model. Selain hobi, kegiatan itu dijadikan sebagai ajang untuk memberikan inspirasi bagi teman-teman sesama TKW di sana agar tetap bisa memberikan citra dan
kontribusi positif untuk bangsa dan tanah kelahirannya.
“Selama ini kan orang lebih banyak disuguhi berita TKW yang jadi korban kekerasan dan penderitaan. Padahal banyak TKW yang bisa berbuat positif untuk mengangkat nama bangsa di negeri orang,” jelasnya.

Sumber/Wartawan/Penulis : Wardoyo