JEBRES —Gedung baru Pasar Rejosari yang terletak di Kecamatan Jebres dinilai tidak ramah difabel. Pasalnya, jalan masuk yang dibuat khusus bagi kaum difabel terlalu curam.
Hal itu terungkap dalam inspeksi mendadak (sidak) Komisi III DPRD Surakarta ke pembangunan Pasar Rejosari, Jumat (15/9) pagi. Ketua Komisi III DPRD Surakarta, Honda Hendarto mengungkapkan, orang normal dan sehat saja akan mengalami kesulitan menggunakan akses masuk bagi difabel tersebut.
“Karena sudutnya memang terlalu curam, dan kaum difabel akan kesulitan. Kita saja yang normal akan merasa kesulitan melewatinya kok, apalagi yang memakai kursi roda. Seharusnya ada jalan masuk ke pasar untuk para difabel, namun ternyata selain sudutnya yang curam, letaknya juga di bagian belakang pasar,” ujarnya di sela sidak.
Honda sangat menyayangkan temuan sidak Pasar Rejosari tersebut karena pihaknya merasa telah mengingatkan hal tersebut sebelum mulai pembangunan. “Seharusnya sejak awal, perencana bangunan sudah paham bahwa setiap bangunan milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta harus ramah difabel. Dalam hal ini, bangunan harus menyediakan akses masuk bagi kaum difabel yang mudah dilewati, serta letak jalur yang mudah dijangkau,” terangnya.
Diimbuhkan Wakil Ketua Komisi III DPRD Surakarta, Sugeng Riyanto, standar sudut untuk akses difabel berada di kemiringan kurang dari 10 derajat. “Namun kali ini ternyata sudut kemiringan akses difabel hingga 45 derajat di Pasar Rejosari. Seharusnya sejak awal hal itu diperhatikan, karena jika jalur itu dilewati malah sangat membahayakan. Makanya mumpung saat ini baru jadi setengah makanya akses difabel bisa dipindahkan ke depan. Supaya nantinya bisa lebih mudah dijangkau,” tuturnya.
Tidak hanya tentang akses difabel, Sugeng juga menyoroti tentang ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Pasar Rejosari. Tidak adanya RTH di Pasar Rejosari sangat tidak sesuai dengan Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) disyaratkan untuk memiliki RTH. “Namun sejauh ini pembangunannya sudah cukup baik, hanya akses difbel dan RTH karena RTH menjadi syarat mutlak dalam perda RTRW,” tukasnya.
Sementara itu, pembangunan pasar yang anggarannya bersumber dari bantuan gubernur (Bangub) sebesar Rp 19 miliar tersebut sudah mencapai 50 persen. Pembangunan pasar dikerjakan PT Surya Bayu Sejahtera dengan batas waktu pengerjaan 12 Desember mendatang.
“Pasat Rejosari ini akan ditempati pedagang kios 60 pedagang, 183 pedagang los, serta pedagang oprokan ada 34 pedagang dan pedagang daging ada 52 pedagang. Saat ini mereka ditempatkan di pasar darurat yang ada di dekat pasar utama. Nantinya diperkirakan sebelum pergantian tahun pedagang bisa kembali menempati pasar,” pungkas Kabid Pasar Dinas Perdagangan Surakarta Sigit Prakoso.

Sumber/Wartawan/Penulis : Triawati Prihatsari Purwanto